Jangan Lebay, Mari Berpuasa Dengan Santai

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Ramadhan telah tiba, di beberapa tempat di negeri ini, mulai hari ini sampai selama sebulan ke depan, di siang hari, semua restoran akan diperlakukan layaknya barang haram.

Dengan alasan menghormati bulan ramadhan, di daerah-daerah semacam itu, sebentar lagi kita akan mendengar adanya sweeping terhadap rumah makan yang buka diam-diam di siang hari.

Sebentar lagi akan banyak kita dengar pemilik rumah makan yang buka diam-diam melayani pelanggan di siang hari akan dihujat dan dipermalukan, seolah-olah PUASA di bulan RAMADHAN itu adalah kewajiban semua orang.

Padahal kenyataannya, bukan hanya yang Non-Islam, orang Islam sendiripun banyak yang tidak berpuasa, sebab Islam memberi hak kepada perempuan hamil, menyusui dan sedang menstruasi serta laki-laki (juga perempuan) yang sakit atau bekerja berat serta anak-anak untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Lalu adilkah kita, memaksa semua orang berpuasa dengan cara menutup paksa semua rumah makan pada siang hari bulan Ramadhan, padahal kewajiban yang hanya diperintahkan kepada sebagian orang.

Pernahkah kita berpikir, di bulan ramadhan ini ada ibu hamil yang karena pekerjaan, pada siang hari terpaksa mengunjungi daerah yang mewajibkan penutupan semua restoran lalu ikut-ikutan berpuasa karena tidak dapat menemukan restoran?.

Mereka memang bisa saja membeli makanan kering di supermarket atau kios pinggir jalan, tapi tetap saja kita telah mengurangi HAK mereka untuk tidak berpuasa?

Ketika kita memaksa orang yang diberi HAK untuk tidak berpuasa, untuk berpuasa seperti kita, atau ketika kita mengurangi hak-hak mereka untuk tidak berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah bertindak melebihi Tuhan yang kita percaya telah memberikan hak itu pada mereka?

Saudara-saudara sekalian, puasa adalah adalah sebuah aktivitas yang didasarkan atas kepercayaan yang berlandaskan IMAN. Dan seperti yang banyak kita dengar dari para penceramah dan pengkhotbah, inti dari ibadah puasa itu adalah menekan ego dan mengendalikan diri.

Menurut iman yang kita percayai, katanya, semakin besar tantangan yang kita hadapi semakin besar pahala yang kita dapatkan.

Karena itu, bukankah kita yang melaksanakan ibadah puasa sebaiknya jangan lebay, tapi sebaliknya berpuasalah dengan santai dan nggak usah minta dihormati terlalu berlebihan.

Sebab sesuai dengan kepercayaan yang kita imani, puasa di bulan Ramadhan memang tidak diwajibkan oleh Tuhan kepada setiap orang.

MARHABAN YA RAMADAHAN

Wassalam

Win Wan Nur

Comments Off more...

Antara Columbus, Dendeng Balado dan Masa Depan

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Banyak orang yang menghabiskan hidup untuk berpikir terlalu keras untuk merancang apa yang disebut dengan masa depan, seolah-olah masa depan itu begitu mudah dibayangkan dengan parameter-parameter yang ada sekarang.

Padahal kenyataannya, hampir di setiap detik hidup kita, kita dihadapkan pada persimpangan-persimpangan jalan yang harus kita pilih untuk kita jalani untuk kembali bertemu persimpangan-persimpangan lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Apa yang kita dapatkan hari ini tidak lain adalah akumulasi dari segala keputusan yang kita ambil sendiri atau keputusan yang diambil oleh orang yang memiliki kekuasaan terhadap diri kita, sejak kita lahir sampai detik ini.

Ketika mengalami sebuah kejadian yang tidak mengenakkan atau yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan, banyak dari kita merasa di depannya tidak ada lagi hal baik apapun yang kita dapatkan. Begitu pula sebaliknya saat mendapat hal yang menguntungkan banyak dari kita yang bersikap seolah-olah, hal-hal buruk tidak akan mungkin terjadi di belakang keberuntungan itu. Padahal kenyataannya di depan kita selalu menunggu banyak persimpangan jalan yang bisa membawa kita ke berbagai arah dengan jumlah kemungkinan yang tidak terhingga. Sehingga seperti apa masa depan itu, sama sekali tidak bisa diprediksikan bahkan tidak bisa kita bayangkan pada hari ini.

Banyak dari kita yang karena hidup dalam abad teknologi canggih ini, karena melihat berbagai kecanggihan teknologi di sekitar kita lalu berpikir bahwa apa yang kita lihat dan kita nikmati belakangan ini (seperti internet, pesawat terbang dan televisi) adalah hasil dari sebuah pemikiran yang dirancang begitu serius dari awal sampai akhir, sehingga bisa sempurna seperti yang kita nikmati hari ini. Padahal kalau semua itu kita amati dengan cermat, semua teknologi canggih hari ini adalah kumpulan dari berbagai kebetulan yang saling bersinggungan dengan kebetulan yang lain sehingga apa yang kita lihat hari ini pun tercipta.

Alam terutama manusia adalah yang paling pertanggung jawab atas tak terprediksikannya masa depan itu, karena sifat dan perilaku manusia itu sangat kompleks dan sering penuh kebetulan. Bahkan sebuah kekeliruan yang dilakukan seorang anak manusia bisa mengubah wajah dunia secara ekstrim di masa depan, sehingga masa depan itu tidak pernah terbayangkan oleh orang yang hidup di masa sekarang.

Suatu kejutan yang tak bisa diprediksikan itu sebut saja misalnya peristiwa lahirnya seorang manusia eksentrik yang belakangan dikenal dengan nama Columbus. Dia lahir beberapa abad yang lalu di sebuah negara eropa bernama Genoa (sekarang masuk teritori Italia).

Pada paruh akhir abad ke-15, Columbus dengan keeksentrikannya yang karena percaya teori yang mengatakan bahwa Bumi itu bulat (berlawanan dengan kepercayaan banyak orang pada masa sebelumnya yang percaya bumi ini datar), lalu merencanakan sebuah ide gila untuk melakukan pelayaran menuju India melalui arah yang berlawan dengan kebiasaan umum. Ide gila Columbus berakhir dengan sebuah kekeliruan fatal yang mengubah total masa depan sesudahnya, yang sama sekali tidak pernah bisa dibayangkan oleh orang-orang yang hidup di masa sebelumnya.

Tanpa disadari oleh Columbus sendiri, ternyata ide gilanya ini ternyata telah membawanya ke benua yang sekarang kita kenal dengan nama Amerika. Sebuah Dunia yang lama sekali terputus sejarahnya dengan belahan dunia lain (Asia, Eropa dan Afrika).

Meskipun dalam kajian linguistik terbaru, ilmuwan menemukan adanya beberapa kata dalam bahasa suku-suku Indian Amerika yang memiliki kemiripan dengan bahasa Mesir kuno, yang berarti pernah ada pertukaran budaya antara kedua peradaban ini. Tapi selama ribuan tahun, generasi manusia yang hidup di dunia lama, sama sekali tidak pernah menyadari bahwa di planet ini ada benua lain selain Asia, Eropa dan Afrika yang juga didiami manusia. Dalam masa ribuan tahun sebelum Columbus punya ide gila itu, oleh orang-orang dunia lama, dunia dimengerti sebagai sebuah dunia dengan segala pulau dan benua yang minus Amerika.

Kitab-kitab suci (yang semuanya turun sebelum Columbus lahir) menjelaskan tentang tingkah polah manusia dan hukuman Tuhan yang diturunkan kepada mereka, semua yang bercerita tentang tingkah polah manusia yang hidup di dunia lama, tanpa pernah menyinggung tentang adanya manusia yang hidup di dunia baru. Segala konflik antar manusia, antar ras, antar suku dan antar keluarga yang diceritakan dalam kitab suci, semuanya merujuk pada konflik manusia-manusia di dunia lama. Belakangan mungkin ada beberapa ahli tafsir kitab suci entah dari agama apa yang berhasil menafsirkan beberapa teks kitab suci agama mereka sehingga menyimpulkan bahwa teks tersebut sebenarnya bercerita tentang benua Amerika. Tapi penafsiran seperti ini, mustahil bisa ada kalau Columbus tidak pernah sampai di sana.

Bahkan sampai akhir hayatnya, Columbus sendiri tidak pernah menyadari kalau sebenarnya dia sudah melakukan sebuah kekeliruan besar dan dia pun sama sekali tidak pernah menyadari kalau sebenarnya dia tidak pernah mencapai India. Sampai akhir hayatnya, Columbus menyangka ide gilanya itu berhasil dengan sukses dan dia menyangka kalau dia benar-benar sudah sampai di India. Columbus pun sangat bangga dengan pencapaiannya itu dan dia pun meninggal dengan keyakinan yang kuat bahwa bumi itu BULAT.

Padahal kenyataannya, meskipun kesimpulan akhir Columbus bahwa bumi itu BULAT, benar adanya, tapi kesimpulan itu dia buat berdasarkan asumsi yang salah, yaitu dia bisa berlayar mencapai INDIA, melalui jalur yang berlawanan dengan kelaziman yang berlaku pada masa itu.

Berdasarkan pengetahuan yang kita ketahui sekarang, sebenarnya saat itu Columbus baru saja menemukan sebuah dunia baru yang dalam kurun waktu lama tidak pernah dikenal oleh orang-orang yang hidup di dunia lama.

Akibat dari ide gila Columbus dan kekeliruan yang dibuatnya itulah, sekarang kita mengenal negara adidaya bernama Amerika yang menjadikan diri sebagai polisi dunia, akibat kekeliruan Columbus itu pula kita mengenal sebuah negara bernama Brazil yang 5 kali menjadi juara dunia sepakbola dan juga akibat kekeliruan Columbus, sekarang kita mengenal seorang maestro sepakbola bernama Lionel Messi dan Diego Maradona.

Tapi yang lebih ekstrim dari itu adalah bagaimana ide gila Columbus dan kekeliruan yang dibuatnya telah memodifikasi perilaku dan kebiasaan bahkan selera moyang kita sehingga menjadi berbeda total dengan selera kita hari ini.

Kekeliruan Columbus membuat dunia baru terkoneksinya dengan dunia lama, sehingga terjadilah pertukaran tanaman dan ternak antara dua dunia yang terisolasi dalam waktu cukup lama itu.

Akibat interkoneksi itu, moyang kita jadi mengenal tanaman bernama cabai, kentang, jagung, coklat dan lain sebagainya. Sebaliknya, orang di dunia baru jadi mengenal yang namanya Ayam, Kopi sampai Kuda.

Cabai, tanaman pedas dari dunia baru itu dibawa ke eropa dan kemudian orang Portugis membawanya ke Goa, India lalu dari sana menyebar ke seluruh Asia (Termasuk Nusantara) baik menyebar secara tidak sengaja karena dibawa oleh burung yang menyukai cabai karena tidak memiliki syaraf perasa yang bisa merasakan pedas ataupun melalui manusia sendiri.

Keberadaan Cabai di negeri ini kemudian memodifikasi total selera suku-suku di Nusantara terhadap rasa makanan yang sehingga tentu saja mempengaruhi sebagian besar kuliner suku-suku Nusantara.

Tanpa adanya ide gila dan kekeliruan fatal yang dibuat Columbus, kita tidak akan pernah mengenal kuliner semacam sayur Masam Jing, Asam Ke’eng, Ayam Betutu, Daun Singkong Rebus bumbu Cabe Hijau bahkan Dendeng Balado yang merupakan masakan best seller di setiap warung Padang yang tersebar di pelosok Nusantara.

Dari cerita di atas kita bisa melihat bagaimana masa depan bisa menjadi sangat berbeda dengan yang bisa kita bayangkan hari ini, akibat dari sebuah peristiwa yang tidak mungkin bisa terbayangkan di masa sekarang.

Kejutan-kejutan dan kejadian-kejadian yang tak terprediksikan semacam ini baik karena kehadiran manusia semacam hitler atau karena kejadian alam yang luar biasa seperti Tsunami, terus terjadi dari masa ke masa tanpa pernah bisa kita bayangkan sebelumnya, tapi ketika dia datang dia mengubah total peradaban yang ada.

Makanya, aneh sekali rasanya melihat ada orang menghabiskan hidup untuk berpikir terlalu keras untuk merancang apa yang disebut dengan masa depan yang dia sendiri sebenarnya tidak pernah tahu seperti apa bentuknya.

Padahal bukankah lebih baik dan jauh lebih logis kalau kita berbuat sebaik-baiknya saja hari ini dengan standar-standar yang ada pada hari ini pula…Masa depan nanti akan seperti apa, nanti kita akan ketahui bersama setelah masa itu tiba.

Tapi kembali, itulah ajaibnya dunia dan menariknya masa depan yang tidak pernah bisa dibayangkan dan terprediksikan itu.

Ketika ada orang berpikir terlalu keras untuk merancang apa yang disebut dengan masa depan dan lalu membuat kesalahan. Malah seperti Columbus, kesalahan yang dia lakukan itulah yang kemudian mengubah wajah dunia, menjadi dunia yang sangat berbeda. Dunia yang sama sekali tidak pernah bisa dibayangkan oleh orang-orang yang berasal dari generasi sebelumnya.

Wassalam

Win Wan Nur

Notes : Dua paragraf terakhir adalah tambahan yang terinspirasi dari komentar Andes Nandes di note ini.

Comments Off more...

Anak Zaman Sekarang dan Orang Tua FULL TIME

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

“Bunda, mulai hari ini aku mau banyak-banyak nabung”, cetus Mattane Lao, putri sulungku yang berusia lima setengah tahun kepada istriku, suatu hari sepulangnya dia dari sekolah.

“Oh bagus itu, tapi kok tumben hari ini tiba-tiba jadi pengen banyak nabung”, tanya istriku penasaran.
“Soalnya, hari ini Cleo pulang ke Itali, terus Mattane Lao, Karuna, Michelle sama Luna janjian nanti tamat SD kami mau jalan-jalan ke sana, nemuin si Cleo, tapi ke Itali itu kan ongkosnya mahal, makanya Mattane Lao harus mulai nabung dari sekarang”, jelasnya, dan istriku pun cuma bisa mengangguk-angguk.

Pada saat liburan tiba, anakku ingin mengunjungi neneknya, tapi aku begitu sibuk dengan pekerjaan dan istriku baru saja melahirkan. Sehingga tidak ada yang bisa mengantarkannya. Jadi kami mencoba membujuknya untuk memahami situasi itu.

Tapi apa jawaban anakku itu?

“Mattane Lao kan udah besar, Mattane Lao bisa pergi sendiri kok, ngapain diantarin?… kayak anak kecil aja”, katanya.
“Mattane Lao tau kok gimana caranya naik pesawat, kan Mattane Lao terus perhatiin tiap kali kita ke Bandara”, lanjutnya kemudian.

Memang selama ini, sejak dia berumur 4 bulan, paling tidak setahun dua kali, kami selalu mengajaknya berpergian sehingga dia sudah cukup hafal seluk-beluk dan apa yang harus dilakukan di bandara. Apalagi aku pun sering merekam setiap perjalanan itu, sehingga dia bisa mengamati dengan teliti apa saja yang harus dilakukan saat akan terbang menggunakan jasa sebuah maskapai penerbangan, sehingga berbagai bujukan dan pandangan yang kami berikan selalu berhasil dia patahkan.

Dan akhirnya kami pun menyerah dan membiarkannya terbang sendirian untuk nantinya dijemput oleh pamannya di bandara tujuan.

Tapi bagaimana pun, melepaskan anak sebesar itu terbang sendirian, istriku tentu saja tetap merasa was-was. Oleh istriku, Mattane Lao dibekali handphone, diajari jangan mau menerima ajakan orang asing yang tak dikenal, menyuruhnya menghafal nomor HP milik kami berdua dan berbagai tindakan preventif lainnya. Sementara si anak sendiri sangat antusias, pertama kali terbang sendirian adalah hari besar buatnya.

Seminggu sebelum berangkat, semua tetangga dia kabari kalau dia akan pergi berlibur ke tempat neneknya dengan pesawat terbang SENDIRIAN tanpa diantar. Setiap malam di rumah dia meminta aku atau ibunya membacakannya buku tentang bandara dan berbagai aktivitas yang terjadi di dalamnya.

Antusiasme yang sama, dia perlihatkan ketika aku mengantarnya ke bandara sehingga banyak orang yang geregetan melihat tingkahnya.

Melihat gayanya yang begitu antusias dan percaya diri menenteng barang bawaannya sendirian, seorang turis asing yang juga akan terbang menyapanya.
” Hey, you gonna fly…big girl?”, sapa si turis yang berumur di atas 60-an tahun ini ramah
” Yes…and I’ll fly by myself, not with my dad, he just bring me here” jawab Mattane Lao dengan penuh percaya diri dan nada kebanggaan sambil memberi penekanan yang tegas pada kata “by myself”.

Setelah Mattane Lao kutinggalkan di bandara, istriku masih tetap was-was sampai beberapa jam kemudian ketika Mattane Lao tiba di tujuan dan menelepon dan terus menyerocos dengan berbicara dengan lidahnya yang masih cadel tanpa memberi kesempatan kepada istriku untuk menyela. Per telepon anakku menceritakan kalau di pesawat dia duduk sebangku dengan om pesulap yang bisa mengeluarkan tisu dari kursi depan. Pamannya yang menjemputnya mengatakan kalau Om pesulap yang dia maksud itu adalah salah seorang peserta acara The Master di RCTI.

Pulang dari tempat neneknya dia kembali terbang sendirian, kali ini dia terbang malam dan menceritakan kalau saat di pesawat dia diberi hadiah macam-macam oleh tante pramugari, satu diantaranya adalah boneka anjing berseragam pilot dan bukan cuma itu, dia juga diajak oleh Om Pilot ke kabin pesawat untuk melihat bulan yang malam itu sedang purnama. “dari kabin pesawat bulannya kelihatan cantik banget bunda, bersih nggak ketutup awan sama sekali, soalnya awannya ada di bawah kita”, ceritanya, membuat istriku iri, karena dia sendiri sangat suka melihat bulan purnama dan belum pernah melihat bulan purnama sejelas itu tanpa terhalang apapun dari atas awan.

Begitu berbedanya situasi yang dialami anakku ini kalau dibandingkan dengan situasi yang aku alami saat aku masih seumuran dirinya dulu.

Saat dulu aku seumuran anakku ini, bayangan terjauhku tentang tempat yang bisa dikunjungi di Planet ini adalah Medan, karena aku punya bibi yang tinggal di sana. Sebenarnya aku juga punya Pak cik yang kuliah di Jogja, tapi dalam bayanganku waktu itu, Jogja itu rasanya seperti sebuah kota yang ada di planet lain saja.

Pada umur yang sama dengan umur anakku ini, aku masih tinggal dengan kakekku di kampung kami di Isaq, dan meskipun saat itu sudah sangat mengenal Cik Alin, sopir bis Menara 11 yang melayani jalur Isaq-Takengen. Sedikitpun tidak pernah terbayangkan di benakku untuk berpergian sendirian dari Isaq ke Takengen yang jaraknya 30 KM itu tanpa ditemani oleh kakekku atau orang dewasa lain.

Bahkan ketika liburan semester pertama kuliah, aku memutuskan untuk sendirian pergi ke Medan mengunjungi bibiku (sekalian bersenang-senang setelah pertama kalinya mengalami ditolak cewek), tak urung orangtuaku jadi khawatir juga. Ketika ditanyakan kenapa berani-beranian ke Medan sendirian dan kujawab ” Cuma pergi ke Medan aja, apa yang perlu ditakuti”, seorang Pakcikku (adik ibu) yang (saat itu, ketika dia udah memiliki dua anak) seumur hidupnya belum pernah berpergian keluar dari Aceh, menyeletuk “itulah anak-anak sekarang, ke Medan pun dibilang ‘cuma’ ”

Waktu masih kecil dulu, sering sekali aku mendengar perkataan orang tuaku yang mengatakan “kamu ini banyak protes, padahal kamu itu sekarang enak, kalau zaman ibu kecil dulu….”. Waktu itu aku seringkali dituntut untuk bersikap sama seperti masa ketika masa ibuku kecil dulu, ketika listrik, televisi bahkan radio pun belum ada. Bukan hanya aku, teman-temanku pun sering mengeluhkan hal yang sama. Bahkan sampai hari ini pun aku masih sering melihat banyak orang tua yang menuntut hal demikian kepada anak-anaknya, tanpa menyadari kalau dunia yang didiami oleh anak-anak mereka sekarang bukan lagi dunia yang sama dengan dunia yang mereka diami saat kecil dulu.

Dari lahir sampai berumur 24 tahun, aku cuma mengenal satu Presiden dan satu sistem pendidikan yang mengharuskanku tunduk patuh kepada apapun yang disampaikan pengajar, semua pelajaran, mulai dari matematika, pelajaran membaca, pendidikan moral sampai agama dipahami dengan cara dihafal. Sehingga di masa aku bersekolah dulu, jarang sekali aku melihat ada seorang murid yang berani bertanya dengan kritis kepada guru.

Ini sangat berbeda dengan yang dialami oleh anakku sekarang. Sejak masih TK, di sekolahnya dia sudah dibiasakan berpikir kritis. Belajar membaca bukan didahului dengan pemahaman susunan-susunan huruf, tapi lebih ditekankan bagaimana mengolah bunyi menjadi kode-kode dalam huruf yang dituliskan di sebuah kertas. Karena itulah ketika seumurannya dulu aku sudah bisa lancar membaca, anakku sekarang masih banyak salah dalam menulis dan masih sering kebingungan dalam membaca.

Tapi di sisi lain, dia sangat paham apa yang dia baca dan apa yang dia tulis, dia paham betul kalau apa yang tertulis dan terbaca itu bukan hanya sekedar susunan huruf, melainkan kenyataan yang ditampilkan dalam kode-kode huruf.

Begitu pula dengan matematika, dia tidak diajarkan tambah kali kurang dengan angka-angka saja. Tapi dengan butiran-butiran baja kecil, sehingga dia merasakan kalau 1+1=2 itu artinya di dunia nyata benda itu bertambah dua kali lipat, dia bisa melihat perubahan itu dan bisa merasakan beda beratnya.

Cara pengajaran seperti ini membuat logikanya berkembang dan dia pun tidak akan segan bertanya kalau ada sesuatu yang janggal dan tidak pernah puas dengan jawaban standar “ya memang sudah begitu adanya”

Misalnya, suatu hari sepulang mengaji di mesjid dekat rumah, anakku kembali dengan muka masam. Ketika kutanyakan kenapa mukanya begitu
“Ustadz-nya aneh”, kata anakku.
“Lho kok aneh”, tanyaku balik. Lalu dia menceritakan kalau tadi dia diajari bacaan doa kepada orangtua, bunyi do’anya “Ya Allah, sayangilah orangtuaku sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku kecil”.

“Lho kan udah bener terus apanya yang aneh”, tanyaku semakin penasaran.
“Ya aneh lah, kok dalam do’anya orang tua sayang sama nak waktu masih kecil aja?, memangnya kalo udah besar nggak disayang lagi?”, protesnya
“Terus?”
“Mattane Lao tanya sama ustadznya, kok bisa gitu”
“Terus ustadznya bilang apa?”
“Ustadznya garuk-garuk kepala, dia bilang mau gimana lagi memang bunyi do’anya seperti itu”, jelasnya dengan wajah masam.

Anda yang menjadi orang tua juga mungkin pernah mengalami hal yang sama, menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis tak terduga dari anak kita.

Aku dan istriku sudah mendapati ide dan pertanyaan seperti itu dari anak kami, ketika anak kami itu belum lancar membaca. Entah apa jadinya kalau nanti dia sudah bisa membaca sendiri buku-bukunya dan dia pun tersambung ke dunia global melalui internet.

Sejak awal menikah, aku dan istriku sudah sangat menyadari kalau nanti kami akan situasi seperti ini, karena itulah aku dan istriku sepakat kalau menjadi orang tua tidak bisa menjadi pekerjaan sampingan semata.

Ketika memutuskan untuk menikah dan punya anak, itu artinya kami sudah siap mental dengan segala resiko dan tanggung jawab sebagai orang tua, sehingga mau tidak mau, sekarang ketika anak sudah mulai beranjak besar, kami pun mau tidak mau harus terus menambah pengetahuan dan memahami banyak informasi agar tidak tertinggal terlalu jauh dibandingkan dengan anak yang tumbuh dalam iklim globalisasi dan penuh keterbukaan seperti sekarang.

Aku dan istriku menyadari kalau kami berdua menjadikan pekerjaan sebagai orang tua sebagai pekerjaan sampingan, itu hanya akan membuat banyak ketidak puasan dalam diri anak kami, yang kalau terus dibiarkan nantinya bisa berkembang menjadi protes bahkan bukan tidak mungkin sebuah perlawanan.

Kalaupun seperti saat ini hidup begitu banyak tuntutan yang mengharuskan kami memiliki banyak penghasilan dan menuntut kerja yang lebih keras, tapi aku dan istri memutuskan kalau hanya salah satu dari kami yang bertugas sebagai ‘mesin pencari uang’, sementara salah satunya lagi untuk sementara harus tinggal di rumah untuk bekerja sebagai orangtua secara FULL TIME.

Wassalam

Win Wan Nur

Comments Off more...

Takut Hilang bagasi?…JANGAN PERNAH NAIK LION AIR

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Tadi detik.com memberitakan kalau 20 Penumpang Lion Air dari Jakarta yang mendarat di Pekanbaru bingung. Sebab barang bagasi mereka masih tertinggal di Jakarta.

Terus katanya Para penumpang pun protes ke konter Lion di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru.

Masih menurut detik, ke 20 Penumpang ini ternyata berasal dari beberapa pesawat yang berbeda jadwal keberangkatannya pada Minggu (1/8/2010). http://www.detiknews.com/read/2010/08/01/170638/1411297/10/bagasi-tertinggal-di-jakarta-20-penumpang-lion-di-pekanbaru-protes?n991103605

Lalu mereka pun mengeluh kalau barang-barang yang mereka lihat di pekanbaru ada yang menggunakan label Lion ke Palembang dan Makassar.

Saya bisa membayangkan bagaimana dongkolnya para penumpang yang kehilangan barang ini, karena bisa jadi barang yang tertinggal itu adalah barang yang sangat penting dan bisa jadi urusan mereka di Pekanbaru sangat tergantung dengan barang yang tidak sampai di Pekanbaru akibat kecerobohan Lion Air.

Tapi apa boleh buat dalam kasus kehilangan bagasi ini, penumpang memang ada di posisi yang lemah. Di tiket tertera aturan yang harus disepakati oleh penumpang sebelum memutuskan untuk memakai jasa sebuah maskapai penerbangan. Di situ tertera kalau barang di bagasi hilang maka barang tersebut akan diganti oleh pihak maskapai penerbangang dengan harga 20 ribu per kilogram barang yang hilang, dan karena telah memutuskan untuk terbang dengan maskapai tersebut artinya si penumpang telah menyetujui aturan yang ditetapkan sendiri oleh maskapai tersebut.

Bayangkan 20 ribu sekilo, memangnya yang hilang itu barang loakan?…terus bayangkan kalau anda cuma sehari atau dua hari di pekanbaru dan barang milik anda baru ditemukan 2 minggu kemudian.

Maka ketika hal semacam ini terjadi, wajarlah seorang direktur umum maskapai penerbangan dengan santai mengatakan akan mengganti bagasi yang hilang tersebut sesuai dengan ketentuan.

“Kalau ada laporan barang bagasi hilang akan dicek dan dicari terus. Kalau hilang akan diganti sesuai ketentuan. kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait saat dihubungi detikcom pada Minggu (1/8/2010). Menganggapi protes 20 Penumpang Lion Air di Pekanbaru yang barangnya tertinggal di Jakarta. http://www.detiknews.com/…read/2010/08/01/181155/1411312/10/lion-air-jika-ada-barang-bagasi-hilang-akan-diganti?n991103605

Begitulah, rupanya celah aturan yang sangat menguntungkan penyedia jasa penerbangan dan sangat merugikan penumpang itu, dimanfaatkan dengan baik oleh penyedia jasa penerbangan yang memiliki staf pengaturan bagasi yang tidak profesional seperti Lion Air ini.

Ringannya tanggung jawab penyedia jasa penerbangan dalam kasus kehilangan bagasi inilah yang membuat si direktur bisa ngomong dengan santai dan tanpa beban seperti itu, karena kalau cuma 20 ribu sekilo, dengan berat bagasi maksimum 20 kilo per orang. Maka uang yang perlu dia keluarkan untuk mengganti kerugian ke dua puluh penumpang malang di Pekanbaru itu cuma 8 juta perak saja. Dan dengan itu dia lepas dari segala tanggung jawab sebagai penyedia jasa penerbangan.

Saya sendiri sudah dua kali menjadi korban ketidak profeionalan staf bagasi Lion Air ini.

Kejadian pertama saya alami pada tahun 2006, ketika itu saya menumpang Lion dari Jakarta ke Bali.

Seperti yang dialami oleh penumpang di Pekanbaru, bagasi milik saya yang berisi kain yang saya beli di Jakarta untuk keperluan garmen yang dikelola oleh istri saya nyasar entah kemana. Saya benar-benar kesal karenanya, dan saya pun mengklaim ke bagian pelaporan. Lalu seperti Edward Sirait, mereka dengan santai mengatakan kalau mereka akan menggantinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagaimana tertera di tiket yaitu 20 ribu perak sekilo. Mendapati perlakuan seperti itu saya hampir mengamuk, tapi saya kedahuluan oleh orang lain yang sepertinya seorang kameramen dari sebuah stasiun TV swasta kalau tidak salah SCTV yang barangnya berupa kamera dan berbagai peralatan syuting juga dihilangkan Lion. Dia betul-betul mengamuk, karena dia sengaja membayar mahal dengan menumpang di kelas bisnis karena berpikir itu akan membuat Lion Air lebih hati-hati menjaga barang miliknya yang dimasukkan ke bagasi.

Tapi ketika itu ternyata tidak membantu, dia pun mengamuk sejadi-jadinya apalagi Dia memang datang ke Bali tidak lain ya cuma untuk melakukan syuting dan itu cuma bisa dia lakukan dengan peralatan miliknya yang diangkut Lion Air yang saat itu entah sudah sampai dimana.

Tadinya saya akan mengamuk karena 40 kilo barang milik saya yang saya beli seharga 50 ribu per kilonya akan dibayar seharga 20 ribu per kilo oleh Lion, artinya kami akan rugi 30 ribu sekilo. Tapi melihat kejadian kru TV yang yang mengamuk itu, saya dan istri malah tertawa, kami memang jelas akan rugi, tapi kami tertawa membayangkan kamera dan berbagai peralatan syuting milik kru TV yang malang itu akan dibayar seharga 20 ribu sekilo oleh Lion Air.

Berikutnya, saya masih beberapa kali menggunakan jasa Lion Air dan saya pun kembali mengalami hal yang sama, kali ini bagasi yang hilang itu berisi pakaian milik keponakan saya. Lagi-lagi saya harus rela menunggu selama dua minggu atau menerima ganti rugi sebanyak 20 ribu sekilo.

Setelah itu, meskipun sekarang saya menggunakan jasa transportasi udara setidaknya sebulan sekali, saya nyaris tidak pernah lagi menggunakan jasa Lion Air, kalaupun terpaksa sekali entah karena kekuarangan duit untuk bisa naik maskapai lain atau karena maskapai penerbangan lain penuh, saya biasanya hanya membawa tas yang muat di bagasi. Saya benar-benar kapok menitipkan bagasi ke Lion Air.

Jadi saran saya bagi siapapun yang tidak mau rugi, ketika terbang dengan bagasi yang nilainya lebih dari 20 ribu perak sekilonya….JANGAN PERNAH NAIK LION AIR…

Wassalam

Win Wan Nur
Pernah Jadi Korban Lion Air

Comments Off more...

Miripnya Malaysia Dengan Tabung Elpiji 3 Kg

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Ada banyak kesamaan antara Malaysia dan tabung elpiji 3 kilogram.

Pertama : Malaysia dan dan tabung elpiji 3 kilogram sama-sama dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia karena alasan devisa negara yang terlalu banyak disedot oleh rakyat jelata.

Malaysia dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia karena pemerintah negara ini yang hobi tebar pesona tidak mampu menyediakan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya maka Malaysia menjadi solusi dari masalah ini karena keberadaannya membuka peluang bagi para pembantu rumah tangga asal Indonesia (‘Minah-minah Indon’ dalam bahasa melayu Malaysia) untuk bekerja. Keberadaan Malaysia yang menjadi tujuan bekerja bagi MINAH-MINAH INDON itu membuat pemerintah Indonesia panen devisa. Persis seperti tabung Elpiji 3 kilogram, yang keberadaannya membuat pemerintah Indonesia bisa menghemat triliunan devisa yang seharusnya dikeluarkan untuk mensubsidi minyak tanah yang dikonsumsi oleh rakyat jelata.

Kedua : Seperti tabung elpiji 3 kilogram yang keberadaannya membuat pemerintah Indonesia panen devisa tapi membuat masyarakat penggunanya cacat sampai kehilangan nyawa, Malaysia juga sama.

Ketika pemerintah panen devisa dari selain para TKI yang bekerja di Malaysia, MINAH-MINAH INDON yang menjadi penyumbang devisa dari hasil bekerja di negara tersebut mengalami pelecehan, mendapat siksaan dengan resiko mulai dari cacat sampai kehilangan nyawa.

Ketiga : Seperti tabung elpiji 3 kilogram yang persentase orang yang mati akibat ledakannya sangat-sangatlah kecil jika dibandingkan dengan jumlah elpiji yang beredar, sehingga secara statistik bisa dianngap NOL, kejadian pelecehan dan penyiksaan terhadap MINAH-MINAH INDON di Malaysia juga sama.

Di Malaysia, jumlah MINAH-MINAH INDON yang disiksa oleh majikan Malaysianya sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan jumlah MINAH-MINAH INDON yang bekerja di sana dan (menurut orang malaysia) mendapat makan dari belas kasihan majikan Malaysianya, secara statistik jika jumlahnya dibandingkan dengan yang tidak disiksa maka jumlah MINAH-MINAH INDON yang disiksa di Malaysia bisa dianggap NOL juga.

Keempat : Kesamaan yang sangat mencolok antara MINAH-MINAH INDON yang bekerja di Malaysia dan para korban ledakan elpiji, adalah kenyataan bahwa mereka merupakan warga negara Indonesia yang berada di posisi terendah dalam strata sosial dan ekonomi. Mereka jelas bukan berasal dari spesies koruptor kakap yang berada di posisi tertas dalam strata sosial dan ekonomi negeri ini, kelompok ekonomi yang mampu menyekolahkan anaknya di sebuah universitas bergengsi di Malaysia yang terletak di seberang selat Malaka sana, negeri yang dihuni oleh manusia dari Ras Melayu Super.

Kelima : Tragedi yang dialami MINAH-MINAH INDON di Malaysia dan yang dialami para korban ledakan elpiji terjadi karena mereka tidak mendapatkan informasi yang tepat dari penguasa.

Dulu kenapa masyarakat tidak terlalu banyak melakukan protes saat pemerintah melakukan konversi dari minyak tanah ke Gas, itu karena waktu itu pemerintah menggambarkan bahwa menggunakan gas itu hemat dan aman, pemerintah tidak pernah mengatakan kalau memasak menggunakan gas yang berasal dari tabung elpiji 3 kilogram akan membuat penggunanya beresiko cedera, kehilangan rumah sampai kehilangan nyawa.

Bahkan ketika ada indikasi bahwa pengerjaan tabung tidak beres sehingga mengakibatkan rendahnya kualitas solderan, yang membuat gas bocor dan tabung jadi mudah meledak yang menjadi masalah utama tabung ini seolah sengaja ditutupi, pemerintah melalui menteri ESDM malah mengatakan bahwa masalahnya ada pada selang. Indikasi ini memang sangat masuk akal kalau kita membandingkannya dengan proyek-proyek pemerintah yang seringkali tidak beres karena digerogoti oleh korupsi akut yang melanda negeri ini, sampai hal tidak masuk akal seperti mengkorupsi nyawa pun dilakukan oleh orang-orang di negeri ini (silahkan bayangkan apa yang terjadi kalau Pemerintah jadi membangun instalasi nuklir untuk menghemat biaya produksi listrik)

Akibat kesalahan informasi seperti ini, tentu saja korban berjatuhan terus.

Seandainya pemerintah mau jujur dan terbuka memaparkan resiko penggunaan tabung elpiji 3 kilogram, tentu kejadian tidak akan seperti ini. Kalau pemerintah mau jujur mengatakan seperti apa yang disampaikan oleh Sutan Bhatoegana di TVone (20/7/2010) bahwa sebenarnya pemerintah tidak memaksa masyarakat dengan mengatakan bahwa pemerintah tidak pernah memaksa masyarakat menggunakan Gas, sebaliknya menggunakan gas adalah pilihan masyarakat sendiri, karena kenyataannya minyak tanah tetap ada di beberapa SPBU, cuma harganya lebih mahal. Saya yakin masayarakat tidak akan mau menguunakan elpiji dari tabung 3 kilogram

Dan kalau ini dilakukan oleh pemerintah maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi.

Kemungkinan pertama; karena ketakutan, masyarakat akan memaksakan diri memakai minyak tanah yang mahal, menggunakan alternatif lain seperti pakai kayu bakar,atau kalau bagi yang cukup kreatif akan menggunakan sumber energi lain yang lebih aman.

Kemungkinan kedua, rakyat akan mengamuk sejadi-jadinya meminta pemerintah yang sekarang untuk turun dari tampuk kekuasaannya. Dibandingkan kemungkinan pertama, kemingkinan yang kedua ini jelas memiliki peluang yang lebih yang besar untuk terjadi, karena itulah pemerintah tidak banyak memiliki pilihan lain selain menutupi masalah yang sebenarnya sambil mengulur-ulur penyelesaian masalah dengan cara menebar pesona sambil berdo’a dengan khusuk, semoga kejadian ledakan tabung gas elpiji 3kg tidak terjadi lagi.

Apa yang terjadi dengan tabung gas ini setali tiga uang dengan apa yang dialami oleh Minah-minah Indon di Malaysia.

Sejak beberapa tahun belakangan kita mendengar banyaknya penyiksaan yang dilakukan oleh para majikan Malaysia terhadap MINAH-MINAH INDON itu.

Tapi karena bisnis penyaluran jasa tenaga kerja ke luar negeri ini cukup menguntungkan.

Dan untuk pemerintah sendiri, banyaknya pembantu rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Malaysia itu sedikit banyak cukup membantu mengurangi sakit kepala pemerintah akibat dari keharusan menyediakan lapangan kerja, yang merupakan kewajiban dari penyelenggara ini.

Sehingga apakah mereka nantinya akan disiksa setelah sampai di Malaysia seperti yang kerap terjadi, pemerintah tampaknya tidak terlalu ambil peduli. Karena itulah sebelum berangkat ke Malaysia, para calon Minah Indon ini pun sama sekali tidak diberi pengetahuan yang benar tentang masyarakat seperti apa yang akan mereka hadapi di negara seberang itu nanti.

Sebelum berangkat para calon TKI yang nantinya akan dijuluki MINAH-MINAH INDON oleh rakyat di negara yang mereka tuju sama sekali tidak pernah dibekali dengan informasi yang benar tentang bagaimana orang Malaysia sebenarnya memandang Indonesia secara umum. Sebelum berangkat para calon Minah Indon itu sama sekali tidak diberitahu kalau Manusia ras Melayu Super yang ada di seberang lautan itu memandang Indonesia itu sebagai negaranya orang bodoh, kumuh dan miskin. Para calon Minah Indon itu juga sama sekali tidak diinformasikan kalau ketika mereka datang bekerja ke Malaysia menganggap status para calon Minah tidak lebih tinggi dari Pengemis yang mencari belas kasihan orang Malaysia yang kaya-kaya itu.

Apalagi di sini orang Malaysia sering secara salah kaprah sering diistilahkan sebagai “Saudara Serumpun”, sbuah istilah yang benar-benar MENYESATKAN.

Maka meskipun korban terus berjatuhan di Malaysia, PJTKI terus dengan penuh semangat mengirimkan MINAH-MINAH INDON ke negara itu, tanpa ada larangan dari pemerintah kalau kemudian korban kembali berjatuhan, maka seperti biasa yang disalahkan adalah korban itu sendiri, oleh yang berkomentar dikatakan penyiksaan dan pelanggaran HAM itu terjadi di Malaysia itu terjadi karena TKI kurang pendidikan lah, karena TKI memiliki skill rendah lah.

Penyebab utama dari banyaknya kejadian penyiksaan terhadap Minah Indon yang dilakukan oleh Warga Malaysia yaitu akibat kentalnya sikap argogan orang Malaysia yang memandang orang Indonesia sangat rendah, sama sekali tidak pernah diinformasikan dengan benar.

Kalau memang kurang pendidikan dan karena TKI memiliki skill rendah yang menjadi alasan kenapa mereka diperlakukan semena-mena seperti binatang, kita tentu harus bertanya, kenapa di Hongkong dan Taiwan yang juga banyak mempekerjakan TKI, kita jarang sekali mendengar adanya TKI yang disiksa.

Jawabnya ya karena orang Hongkong dan Taiwan tidak seperti orang Malaysia, mereka sama sekali tidak merasa lebih superior dari orang Indonesia.

Untuk membuktikannya silahkan saja datang ke Hongkong atau ke Taiwan dan tunjukkan paspor Hijau berlambang Garuda warna emas ke petugas imigrasi di sana, anda tidak akan mendapati pandangan remeh dari mereka, sebagaimana selalu ditunjukkan oleh petugas Imigrasi di Malaysia terhadap pendatang dari Indonesia.

Bukti lain kalau negara Malaysia itu adalah sebuah negara yang dihuni oleh sekumpulan megalomaniak yang merasa diri sebagai ras Melayu Super yang merasa Indonesia ini adalah negerinya orang miskin kumuh yang hanya bisa hidup karena belas kasihan Bangsa Malaysia bisa dibaca dalam berbagai komentar di sebuah video yang ditonton sekitar dua setengah juta orang (setara dengan hampir 10 % penduduk Malaysia). Video ini berisi rekaman mandi hamil 7 bulan yang merupakan ritual adat satu suku Indonesia yang dipost di youtube http://www.youtube.com/watch?v=f0c3zp9FnCw&feature=related , di dalam komentar terhadap rekaman video ini, anda bisa melihat bagaimana orang Malaysia, bangsa yang terbukti beberapa kali mencuri budaya Indonesia untuk alasan Pariwisata melecehkan adat kebiasaan sebuah suku di Indonesia ini habis-habisan, bahkan tidak cukup sampai di situ, pelecehan yang mereka lakukan melebar sampai ke melecehkan kekuatan TNI yang mereka sebut vuma memiliki kapal buruk yang terkencing-kencing mengejar kapal milik mereka, bahkan melecehkan harkat dan martabat bangsa Indonesia secara keseluruhan yang mereka anggap hanya bisa hidup karena belas kasihan bangsa mereka.

Nah karena informasi yang digambarkan tentang Malaysia tidak sebagaimana adanya, tentu saja yang terjadi di sana juga sama seperti yang terjadi dengan Elpiji 3 kilogram yang jelas-jelas sangat berbahaya tapi tetap dikonsumsi orang. Persis seperti Malaysia, meskipun banyak yang disiksa, tapi karena para calon TKI di sini berpikir, pergi ke Malaysia bisa mengubah nasib, maka MINAH-MINAH INDON itupun tetap datang ke sana dengan resiko akan disiksa bahkan kehilangan nyawa.

Tapi dari begitu banyak persamaan antara malaysia dan tabung Elpji 3 kilogram, ada satu beda;

Bedanya adalah; jika soal Elpiji 3 Kg seluruh masyarakat sepertinya semuanya sepakat kalau masalahnya adalah pemerintah Indonesia yang tidak serius menangani masalahnya dan tidak jujur menjelaskan masalah yang sebenarnya.

Tapi soal Malaysia, pandangan masyarakat negeri ini terbelah.

Meskipun fakta sudah sangat jelas kalau mindset orang Malaysia secara umum sangat memandang rendah Indonesia, tapi fakta itu tetap saja tidak membuat banyak warga negara ini (terutama para sarjana lulusan Malaysia) berpendapat sama, mereka malah dengan gigih membela mati-matian sikap penduduk negara itu, jika mereka melakukan pelecehan terhadap Indonesia, dan mereka pun menggambarkan seolah-olah perilaku melayu-melayu megalomaniak yang merasa diri paling super itu sama normal dan beradabnya dengan perilaku manusia-manusia berbudaya yang hidup di belahan dunia lain.

Wassalam

Win Wan Nur

Comments Off more...

Minah-minah Indon Dalam Kacamata Orang Malaysia

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Gencarnya berita tentang rencana naturalisasi pemain keturunan Indonesia untuk memperkuat Timnas Indonesia. Pencarian itu membawa saya ke youtube yang mempertunjukkan bagaimana Sergio Van Dijk, yang rencananya akan memperkuat Timnas Indonesia ini menciptakan Gol spektakuler dengan cara bicycle kick dan juga video ketika van Dijk mencetak 10 gol dalam satu pertandingan.

Di video yang berisi tentang permainan Van Dijk tersebut juga terdapat link kepada pemain keturunan Indonesia lain bernama Irfan Bachdim yang juga sedang dilrik PSSI untuk dinaturalisasi.

Video yang berisi permainan Van Dijk tersebut http://www.youtube.com/watch?v=kca8jU5nkt8&feature=related, saat saya klik sudah ditonton oleh 10.421 orang dan video tentang Irfan Bachdim telah ditonton oleh 20.550 orang. Di video tentang Irfan bachdim tersebut http://www.youtube.com/watch?v=i0tYoQ02CIs&NR=1 juga terdapat beberapa link yang rata-rata telah ditonton oleh ribuan sampai puluhan ribu orang kecuali satu video yang ditonton oleh 2.446.310 orang.

Melihat spektakulernya jumlah penonton yang hampir sepuluh kali lipat jumlah orang yang menonton video original lagu Love Conquers All http://www.youtube.com/watch?v=kR5YqaKLYWU , salah karya terbaik dari Deep Purple, grup rock terbesar yang pernah ada yang di post tiga tahun yang lalu yang ‘hanya’ ditonton oleh 255.394, awalnya saya menduga video http://www.youtube.com/watch?v=f0c3zp9FnCw&feature=related yang di post oleh orang yang mengaku bernama yudiky pada tanggal 26 April 2008 dengan judul upacara mandi hamil 7 bulan ini hanyalah sejenis film bokep murahan yang ditonton oleh laki-laki iseng.

Tapi setelah saya lihat sendiri, ternyata dugaan saya salah besar. Video ini benar-benar berisi tentang upacara adat mandi hamil 7 bulan, yang dilakukan oleh salah satu suku di Indonesia. dalam video ini kita bisa melihat seorang ibu muda mengenakan sarung sedang diguyur oleh ibu-ibu berjilbab dengan menggunakan gayung, si ibu muda yang dimandikan ini memegang buah kelapa yang sedang bertunas di atas perutnya.

Bagi kita di Indonesia, sebenarnya tidak ada apapun yang istimewa dalam video ini, tapi ternyata video ini begitu menarik bagi orang Malaysia, negara dari ras Melayu yang merasa diri sebagai Melayu paling super di planet bumi.

Kalau isi video-nya biasa-biasa saja, maka komentar-komentar di video ini justru sangat menarik. Komentar-komentar tersebut rata-rata datang dari penonton asal Malaysia yang memanfaatkan ruang komentar di situs ini dan dengan menjadikan video ini sebagai media untuk memamerkan pandangan umum orang-orang yang hidup di negara tersebut terhadap budaya Indonesia dan juga orang Indonesia secara umum.

Awalnya yang berkomentar di video ini adalah orang-orang Indonesia yang seperti umumnya orang Indonesia yang penasaran dengan adat orang dari daerah lain menanyakan budaya daerah mana yang memiliki upacara hamil 7 bulan yang salah satu ritualnya meletakkan kelapa di atas perut ini.

Pertanyaan seperti ini misalnya datang dari mikaEtheS yang dipost satu tahun yang lalu “ini adat orang mana ya?”, tanyanya, lalu komentator lain bernama putrisalju80 yang juga dipost satu tahun yang lalu mengatakan “setiap orang hamil pasti di bulan ke 7nya ada kebiasaan begini supaya anaknya sehat dll nyalah..gitu lohh”

Kemudian seseorang yang tampaknya dari Malaysia bernama penny0102 muncul menanyakan ” ini tradisi mane?
and mengape? Boleh bagai tahu?”

Dijawab oleh softwareattack “Bro dengerin dulu itu mandi 7 bulan adatnya orang kalimantan. Itu bahasa orang kalimantan ”

Selanjutnya mulailah Malaysia pamer ke-UBER ALLES-an melayunya dengan komentar-komentar seperti di bawah ini :

mathsono
1 year ago
wat kecoh jer. mandi pon nk rakam. tk penah mandi kerw????

#
rebelsmy11
1 year ago
kenapa tak mandi bogel…

#
babunjantan
1 year ago 3
but what ever u said..wheater is tradition or what but if u open your aurat…is totally not acceptable..is haram..for those take this video..is not good for viewer and for that girl.please do not “aib” her.

#
anakPakDia
1 year ago
lawa jugak org sunda ni ye…kat malaysia tak ada mcm ni, bidaah tu

#
tamingsariku
1 year ago 2
Astaghfirullahalazim….dedahk­an aurat isteri bagi tatapan umum. Umat akhir zaman…bodoh dalam bijak. Ada lagi yang amalkan benda2 khurafat mcm ni. Bertaubat la dengan segera.

#
betterdie87
1 year ago
karut la suma ni..bodoh pun ada gak..masukkn lam uTube padahal susu bini dia nampak..memalukan org islam jak..ceh!!!

Membaca komentar seperti itu, seseorang yang memakai nama “Satanicsekte” yang tampaknya berasal dari Indonesia tampak emosi dan berkomentar “eh malaysia BANGSAT bahasa loe tuhaneh, jadi gak usah ngomong deh…..
GANYANG MALAYSIA !!! ”

Komentar Satanicsekte bagaikan Bensin yang disiram ke api yang tengah berkobar, tak pelak komentar inipun pun langsung memancing berbagai komentar dari orang-orang Malaysia yang memang dasarnya di dalam lubuk hati terdalamnya melecehkan Indonesia, lalu muncullah komentar-komentar semacam :

“pukimak kamu orang indon…bangsat,dasar pengemis..sedarlah kamu wahai indon pukimak,kalau malaysia tidak bagi kerja,orang indon semua mati kelaparan macam anjing..sudahlah cari makan di malaysia,kamu orang buat jenayah,mencuri menyamun,merogol…tapi nasib baik ramai perempuan indon dimalaysia yang boleh kami rogol..hahahah,lagi satu indonesia nama aja islam,,tapi islam boleh kawin sama kristian..so anak yang lahir itu keturunan apa? anjing? babi?..sudahlah negara mundur,huru hara,hidup melarat” (realsyaitan 1 year ago)

korang indon mcm bagus.datang sini cari makan nak belagak bagus.tengok diri indon tu sikit.kalau memang dah bangsa yang merempat duduk tempat orang jangan nak sombong.kalau cari makan,cari makan betul2.jangan nak ganyang malaysia.bangsa korang tu dapat duit dari hasil kami jugak.kalau 40 orang sini sumpah tidak halalkan duit yang korang dapat maka seluruh keturunan korang ada darah yang tidak halal.ingat tu bangsa indonesia.jangan celakakan badan korang. (sarang3677 1 year ago 2)

haiyo mat minah indon…sedar lah negeri dah in the top list of corruption and still got the cheeck to insult other country..( zulliew 1 year ago)

Berbagai komentar merendahkan dari orang Malaysia ini coba diredam oleh seseorang yang tampaknya berasal dari Indonesia “woy….ini namanya raba perut….100%…kebudayaan Gorontalo (Indonesia)seorang perempuan yg udh nikah dan dlm keadaan hamil 7 atau 8 bulan wajib kalau di Gorontalo Wajib melakukan Adat yg di namakan “Raba Perut”…….yaitu di mandiin dulu…..kemudian acara puncak adatnya….penasaran…..tanya aja ke Teman2 lo…..yg org Gorontalo asli….!!! this is 100% Indonesian Culture not Malaysian culture..!!! (ahriumarz 10 months ago 2)

Tapi penjelasan ini bukannya mengurangi, tapi justru membuat orang Malaysia semakin bersemangat menghina habis-habisan adat dari salah satu suku di Indonesia ini dengan komentar-komentar semacam :

“bodoh punya minah indon, tu la indon nie penuh dgn khurafat..akai taruh lutut..”, ( chireoo 9 months ago)

n the only thing the indonesians r good at are sucking malay cocks as prostitues.. yeah, loads of indons in malaysia sucking cocks..

“r u stupid?miorghazimiorkhairi means mior ghazi mior khairi thats a malay name.indon bodoh.bukan macam name indon =wibowo,garjos,joko selekeh macam anjing.indon pendatang haram.then bangga hahahahahahahaha (miorghazimiorkhairi 9 months ago)

“mandi pon nak tunjuk kat orang.. berkemban pulak tu. awat laki hang bodo sangat” ( BGB262 6 months ago)

“ni video dari sumatera indonesia laa…bukan dari malaysia…kat malaysia tak de lg adat mcm ni…” ( Wakdeenz 6 months ago )

“elok ambik buah kelapa tu, hempok je kat kepala yg suruh buat kejer tu…..budaya bodoh ni….” (MrAKULENI 6 months ago )

“Upacara yg tak masuk akal.. boleh menyumbang ke arah kerosakkan akidah.. Wallahualam…” ( mohdhamidon 6 months ago)

” indon puki tk kenal jasa..patut ler mundur .. chromoray 6 months ago org indon bodoh sombong.. dtg sini konon nk cari mkn. tp ambik kesempatan.. wat jenayah, banggak punye indon.. bersyukur la dah dtg M’sia, pas2 adi ati nk kutuk2 org M’sia.. damn shit la korang..” (cragazudtraz 2 months ago )

Ada banyak lagi komentar semacam itu dalam video yang saat tulisan ini dipost sudah ditonton oleh 2.446.310 orang ini. Lengkapnya silahkan klik di sini : http://www.youtube.com/watch?v=f0c3zp9FnCw&feature=related

Dan apa yang ajaib dari negeri ini adalah, saat sedemikian rendah dan melecehkannya pandangan orang Malaysia terhadap orang yang berasal dari negara ini, pemerintah negara ini masih saja terus membiarkan pengiriman ‘minah-minah Indon (meminjam istilah orang Malaysia) ke negara Melayu Super yang terletak di seberang selat Malaka ini.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Aceh, suku Gayo yang sampai hari ini masih berkewarganegaraan Indonesia

Comments Off more...

Ketika Urusan Nyawa Dikelola Oleh Para Penebar Pesona

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Belakangan ini kita santer mendengar pemberitaan bahwa Toyota Motor, produsen mobil terbesar di dunia asal Jepang berencana menarik peredaran 270.000 kendaraan di seluruh dunia. Padahal Toyota mengatakan pihaknya belum menerima laporan apapun tentang kecelakaan atau kerugian berkaitan dengan persoalan tersebut.

Tapi karena cacat mesin yang menimpa sejumlah mobil, termasuk sedan mewah Lexus dan Crown itu beresiko membuat orang kehilangan nyawa, Toyota tetap melakukan penarikan produk mereka yang terbukti gagal tersebut meski mereka menanggung kerugian sebesar triliunan rupiah. Apa yang dilakukan oleh Toyota itu adalah cerminan MORALITAS bangsa asia timur yang budayanya, kalau dipandang dari segi moralitas bangsa Indonesia jelas budaya jahiliyah karena mereka memiliki budaya semacam Geisha dan masyarakatnya tidak pernah protes terhadap kelakuan artis semacam Maria Ozawa.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, di Indonesia yang merupakan negeri kaum moralis dan agamis ini kita juga mendengar cerita tentang kecacatan sebuah produk yang bernama TABUNG GAS ELPIJI yang diedarkan oleh Pertamina atas usul pemerintah Indonesia.

Meski tidak persis sama, kasus ini mirip dengan yang dialami Toyota yaitu beredarnya produk yang berpotensi merenggut nyawa manusia.

Satu beda yang sangat jelas dalam dua kasus ini adalah, kecacatan produk TABUNG GAS ELPIJIini bukan hanya laporan, tapi sudah menjadi teror tersendiri karena kemampuannya yang luar biasa dalam merenggut nyawa rakyat negeri ini. Bahkan belakangan berita keberhasilan produk yang bernama tabung gas elpiji ini dalam meyebar teror dan merengut nyawa penduduk negeri ini hampir kita dengar setiap hari.

Kemudian beda yang lain adalah dalam hal penanganan, kalau Toyota langsung menarik total produknya yang nilainya paling murah di kisaran ratusan juta itu sebaliknya Pemerintah dan Pertamina adem-ayem saja menyaksikan produknya yang berharga di kisaran maksimal ratusan ribu, berubah fungsi menjadi malaikat pencabut nyawa. Mereka malah dengan penuh percaya diri mengatakan kalau kejadian itu terjadi akibat kecerobohan pemakai, sementara Pemerintah dan Pertamina sendiri dengan santai buang badan.

Perbedaan lain, membeli Toyota adalah pilihan, tidak ada paksaan, tidak ada keharusan. Tanpa membeli Toyota orang tidak akan mati karena masih ada merek mobil lain untuk dibeli, sementara Elpiji, kalau tidak memakai elpiji maka bersiap-siaplah masak menggunakan minyak tanah yang sulit didapat dan kalaupun dapat harganya melambung tinggi.

Kalau di negara lain baru satu atau dua orang warganya yang menjadi korban, pemerintah sudah langsung bertindak tanpa menunggu munculnya protes di masyarakat karena gencarnya berita di koran dan televisi, di negeri tempat bersemayamnya kaum moralis dan agamis sejati ini tidak demikian halnya. Korban sudah berjatuhan setiap hari pun pemerintah dan DPR belum juga terlihat peduli.

Dalam menangani masalah teror tabung gas ini, alih-laih membuat tenang, yang ada, oleh pemerintah kita disuguhi tontonan yang tidak lucu.

Korban sudah berjatuhan dimana-mana, tapi pemerintah yang merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas kehadiran tabung gas 3 kilogram ini di dapur-dapur kita terlihat kebingungan sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa.

Baru setelah rentetan kejadian ledakan ini semakin banyak terjadi, dan media massa mulai ramai memberitakan pemerintah dan Pertamina berhasil dibangunkan dari mimpi indah mereka. Tapi itupun hanya terbangun saja, masih jauh dari menemukan solusi bagi permasalahan yang ada, melainkan lebih untuk mencari popularitas alias tebar pesona.

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh menolak jika dikatakan pemerintah tidak berbuat apa-apa dalam menangani maraknya ledakan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg).

“Kejadian ledakan tabung baru-baru ini membuat kami makin intensif rapat,” aku Darwin.

Begitulah setelah dengan susah payah berhasil dibangunkan dari mimpi indahnya pun, yang mampu dilakukan pemerintah dan Pertamina adalah R A P A T dan hasil R A P A T itu apa? KAMBING HITAM…

Seusai rapat, yang dipersalahkan sebagai penyebab semua kebakaran dan kematian yang disebabkan oleh ledakan tabung Elpiji yang dibagikan secara gratis oleh Pemerintah supaya rakyat tidak menggunakan minyak tanah lagi, adalah kambing hitam hasil temuan rapat itu bernama selang dan regulator palsu dan atribut pendukungnya.

Dari hasil penelitian selama ini, banyaknya peristiwa ledakan gas disebabkan oleh selang yang tidak standar dan tidak ada satupun yang diakibatkan oleh tabung yang bocor. “Jadi, jangan pakai selang sembarangan,” pesan Darwin waktu itu dengan penuh percaya diri. Kejadian ini terjadi pada 26 Jun 2010.

Sementara ‘kambing putih’ yaitu spesifikasi solderan atau sambungan tabung gas yang tidak berkualitas serta banyaknya beredar tabung Gas palsu yang bisa jadi tidak benar-benar palsu karena sebagaimana umum kita temukan dalam setiap pelaksanaan proyek pemerintah di negeri ini yang ketika proyek jatuh pada kontraktor A yang pemenang resmi, oleh si pemenang kontrak, proyek itu kemudian disubkontrakkan dengan harga lebih murah kepada pelaksana lain kontraktor B, bahkan tidak jarang nya lalu Kontraktor B ini pun mensubkontrakkan lagi order tersebut ke Kontraktor C. Sehingga, agar semua lapisan itu mendapatkan untung, mau tidak mau kualitas pekerjaan harus dikurangi.

Maka tidak heranlah kalau sejak 26 Juni 2010 ketika Darwin mulai intensif rapat itu, ledakan Gas terus terjadi hampir setiap hari, berdasarkan data Mabes Polri Kasus ledakan yang terjadi pada tahun ini saja sudah mencapai 38 kasus. Sehingga kasus ini pun semakin menarik buat disiarkan oleh stasiun televisi.

Untuk mendapatkan rating tinggi, stasiun televisi pun mulai memasukkan unsur drama agar perhatian masyarakat semakin fokus pada masalah ini. Rido, anak yang bercita-cita menjadi polisi yang wajahnya rusak akibat ledakan gas dibawa ke studio televisi untuk disaksikan secara nasional, bersama rido dihadirkan pula bayi yang baru lahir yang selamat dari ledakan karena masih berada dalam kandungan, sementara ibu, bapak dan kakaknya tewas.

Dan benar saja strategi ini benar-benar berhasil menarik perhatian yang lebih luas dari masyarakat.

Perhatian masyarakat yang meluas ini pun membuat DPR mau tidak mau harus tampil ke depan….kalau kali ini tetap diam, tentu saja Citra dan Pesona yang jadi taruhan, bisa-bisa pada Pemilu depan tidak terpilih lagi.

Hasilnya?… Pada Jumat, 16 Juli 2010 kemarin setidaknya ada 20 anggota Komisi VII DPR dari berbagai fraksi pun meneken usulan pembentukan Panitia Kerja Tabung Gas 3 Kilogram. Alasannya, mereka menilai, pemerintah ceroboh dalam pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji.

Sementara, pada hari yang sama, di Parepare Sulawesi ditemukan 8.000 tabung elpiji ukuran 3 kilogram (kg) dalam kondisi rusak. Umumnya, tabung-tabung tersebut sudah dalam kondisi berkarat dan bocor. Di Ngawi Jawa Timur, sidak yang dilakukan Pemda setempat menemukan 5.646 tabung elpiji di SPPBE Ngawi, dalam kondisi rusak, Kondisi tabung umumnya patah pegangannya, berkarat, penyok, ataupun bocor,” kata Kepala Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Ngawi Sugianto, Jumat (16/7/2010). http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/07/16/15331961/Lagi..5.646.Tabung.Gas.Ditemukan.Rusak

Dua berita ini dengan telak membantah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh yang pada 26 Juni 2010 silam yang mengatakan “dari hasil penelitian selama ini, banyaknya peristiwa ledakan gas disebabkan oleh selang yang tidak standar dan tidak ada satupun yang diakibatkan oleh tabung yang bocor “, meskipun ucapannya pada 26 Jun 2010 telah terbukti SALAH secara telak, kita tidak melihat adanya permintaan maaf dari Darwin atas kekonyolan yang dia lakukan pada 26 Juni 2010 itu.

Akibatnya DPR pun mulai kasak-kusuk. Selasa (20/7/2010) Komisi VII DPR RI berencana melakukan Rapat Kerja dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Direktur Utama Pertamina dan Badan Standarisasi Nasional tapi batal dilaksanakan karena para menteri dan pejabat Polri yang diundang tak hadir. Menurut keterangan dari pimpinan Komisi VII Effendi Simbolon, Menko Kesra tak dapat hadir karena tengah berada di luar negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kurang sehat, dan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri memiliki kesibukan lain.

Di sisi lain, pemerintah, seperti biasa, tidak mau disalahkan atas terjadinya peristiwa tragis ini.

Pada malam hari setelah kegagalan Rapat Kerja Komisi VII di DPR RI itu, TVone menghadirkan 2 orang anggota DPR, Effendi Simbolon dari PDIP yang beroposisi dan Sutan Bhatoegana dari Partai Demokrat yang mendukung pemerintah, oleh TVone mereka dihadirkan di depan para korban ledakan tabung gas ini untuk dibenturkan pendapatnya atas terjadinya tragedi tabung gas ini.

Dalam acara yang disiarkan langsung oleh TVone itu, Effendi Simbolon tanpa tedeng aling-aling langsung menyerang kebijakan pemerintah yang dianggap gagal, karena memang sejak awal katanya fraksinya telah menentang dilakukannya konversi minyak tanah ke gas dengan cara yang terburu-buru seperti ini.

Tapi Sutan Bhatoegana yang partainya adalah pendukung utama pemerintah, dengan tanpa malu-malu di depan para korban mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya sukses dengan program konversi ini, untuk membela pemerintah dia kemudian menyalahkan situasi belakangan ini ketika mulai banyak beredar tabung palsu dan orang-orang yang mengambil manfaat dari adanya konversi ini, yang menjadi penyebab jatuhnya korban.

Pernyataan Sutan Bhatoegana ini benar-benar menghina akal sehat kita, karena bukan hanya PDIP, sejak awal rencana konversi minyak tanah ke kompor gas dengan tabung ukuran tiga kilogram, banyak pihak telah mewanti-wanti pemerintah untuk menyiapkan tata kelola yang memadai. Sebab kebijakan konversi tersebut mengandung risiko tinggi jika tidak ada standar pengelolaan dan pengawasan yang baik.

Dan, ternyata sekarang ini terjadi banyak ledakan. Ini jelas bukti pemerintah tidak punya pengelolaan dan antisipasi yang mencukupi.

Jadi kok malah banyaknya tabung palsu dan orang-orang yang mengambil manfaat dari adanya konversi ini yang disalahkan, bukankah semua itu terjadi karena pemerintah yang lalai dalam melakukan pengawasan?

Yang lebih membuat emosi adalah ketika Effendi Simbolon mempersalahkan pemerintah yang terlalu cepat menarik minyak tanah dari peredaran yang membuat masyarakat yang banyak yang sebenarnya belum siap, tiba-tiba terpaksa harus mengubah kebiasaan dari yang sebelumnya memasak dengan kompor minyak tanah sekarang harus menggunakan elpiji.

Menanggapi serangan itu, Sutan Bhatoegana, di depan ibu yang kehilangan anak yang kehilangan anak, menantu dan cucunya dan ibu yang anaknya mengalami kerusakan wajah akibat ledakan gas, sambil tertawa-tawa dengan wajah yang tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun dengan santai mengatakan bahwa pemerintah tidak pernah memaksa masyarakat menggunakan Gas. Menggunakan gas adalah pilihan masyarakat sendiri, karena kenyataannya minyak tanah tetap ada di beberapa SPBU, cuma harganya lebih mahal. Dan untuk menebar pesona, di ujung kalimatnya itu Sutan Bhatoegana tidak lupa menyelipkan kata-kata bahwa dia sangat menghargai nyawa rakyat Indonesia.

Kalau ucapan Sutan Bhatoegana ini kita simpulkan secara jernih, maka dengan pernyataannya ini, Sutan Bhatoegana sebenarnya sama saja dengan mengatakan kalau rakyat yang menjadi korban ledakan tabung gas yang penggunaannya dianjurkan oleh pemerintah tanpa memberi banyak pilihan lain itu adalah karena salah rakyat sendiri, kenapa dulu mereka mau mengikuti anjuran pemerintah untuk beralih dari kompor minyak tanah yang aman ke tabung elpiji 3 kg, kenapa untuk memasak korban tidak tetap menggunakan minyak tanah yang kini harganya sangat mahal dan susah didapat?

Dan dengan pernyataannya ini, sebenarnya Sutan Bhatoegana sama saja dengan mengatakan kepada korban, salah sendiri kenapa kamu jadi orang miskin, makanya kamu jadi korban ledakan.

Jika dinilai dari kacamata moralitas orang Jepang dan orang-orang tak beragama di eropa sana, apa yang diucapkan oleh seorang anggota DPR bernama Sutan Bhatoegana di hadapan para korban ledakan tabung gas yang hadir ke dapur mereka karena dibagikan oleh pemerintah ini, jelas sangat tidak etis dan tidak bermoral.

Saya tidak bisa membayangkan di negara demokratis lain akan ada anggota DPR yang masih bertahan di posisinya setelah mengucapkan hal yang sangat tidak etis seperti ini di depan public dan disiarkan oleh televisi secara nasional.

Tapi itulah ajaibnya negeri yang ditinggali kaum moralis dan agamis yang dikelola oleh para penebar pesona ini.

Ketika ada seorang wakil rakyat mengucapkan kata-kata tak bermoral yang menyakitkan hati rakyat di depan publik, tidak ada tokoh agama dan tokoh masyarakat yang mengecam dan mempermasalahkan MORALITAS sang anggota dewan.

Ini sangat berbeda dengan suasana ketika video Ariel bersama Cut Tari dan Luna Maya beredar, saat itu, untuk menunjukkan tingginya moral yang mereka punya, semua tokoh berlomba-lomba berkomentar dan menekan pemerintah untuk menuntaskan masalah ini.

Dan dalam menghadapi kasus seperti itu, pemerintah pun sangat cepat merespon dan sangat bisa diandalkan untuk segera mengatasinya.

Tapi ketika di negara ini kita mengalami masalah yang berhubungan dengan keselamatan nyawa dan keselamatan, maka kita sendirilah selaku rakyat yang harus menemukan solusi untuk permasahan yang menyangkut HIDUP dan MATI ini.

Kalau kita cukup kaya, kita boleh memasak pakai minyak tanah, kalau tidak pakai kayu bakar, kalau kita cukup kreatif, kita bisa menggunakan sumber energi lain, seperti yang dilakukan oleh Abdul Fatah, warga Desa Widoropayung, Kecamatan Besuki, Situbondo, yang memanfaatkan kotoran sapi yang diolah menjadi biogas untuk pengganti elpiji.

Kalau tidak mampu, ya silahkan tetap gunakan Elpiji tabung 3 kilogram dan kalau tidak ingin menjadi korban ledakan yang berikutnya…berdoalah dengan khusuk setiap hari.

Sebenarnya, konversi minyak tanah ini adalah program lama yang dibuat di masa pemerintahan SBY di periode pertama. Tapi kenapa waktu itu tidak ada masalah, kok masalah tidak ada masalah, kenapa era kok jatuhnya banyak korban dan amburadulnya pengawasan baru muncul sekarang di era kepemimpinan SBY-Berbudi, bukan di masa SBY-JK?

Bisa jadi karena di era kepemimpinannya yang pertama itu, SBY ditemani oleh wakil yang bukan hanya bisa menebar pesona tapi memang bisa dan biasa BEKERJA.

Tapi karena pada Pemilu silam kita telah memutuskan untuk memilih wakil dan pemimpin kita karena PESONA yang ditampilkannya, bukan karena keterampilan, pengetahuan dan kemampuannya dalam mengatasi masalah dan bekerja.

Maka sebenarnya saat itu kita telah mempercayakan pengelolaan negeri ini termasuk urusan NYAWA kita kepada mereka.

Jadi tak perlu heran lah ketika sekarang para wakil dan pemimpin yang kita pilih ini berhadapan dengan berbagai masalah termasuk yang menyangkut NYAWA kita selaku rakyatnya, maka cara yang mereka lakukan untuk mengatasinya pun apalagi kalau bukan dengan cara yang telah sukses mereka gunakan untuk memukau kita semua, yaitu TEBAR PESONA.

Wassalam

Win Wan Nur

Comments Off more...

Tulamben, Keindahan Surga Bawah Air Pulau Dewata…Bag II

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Tulamben menjadi tempat menyelam favorit saya, karena dibanding lokasi penyelaman lain di Bali, Tulamben terbilang istimewa. Sebab di tempat ini terdapat bangkai kapal perang Amerika yang bernama USS Liberty. Kapal yang pada perang dunia kedua lalu difungsikan sebagai kapal cargo penyuplai berbagai kebutuhan bagi pasukan sekutu. Kapal yang dibangun pada tahun 1918 ini tenggelam pada tahun 1942 karena terkena torpedo kapal selam milik Jepang.

Kapal ini sebenarnya terkena torpedo di selat Lombok, tapi tidak langsung tenggelam. Kapal yang sudah limbung ini kemudian dicoba diselamatkan oleh HNLMS Van Ghent, sebuah kapal penghancur milik Belanda. Untuk menyelamatkan kalap ini, oleh HNLMS Van Ghent, USS Liberty ditarik dari Selat Lombok menuju ke Singaraja, yang saat itu merupakan Ibukota Bali dan Sunda Kecil. Tapi karena kerusakan yang disebabkan oleh Torpedo kapal selam milik Jepang ini terlalu parah, USS Liberty tidak mampu mencapai Singaraja, sehingga tanpa bisa dicegah kapal ini pun tenggelam di perairan Tulamben, tidak jauh dari pantai.

Di tempat itulah, di kemiringan bawah air pantai Tulamben yang terletak di kaki gunung Agung pada kedalaman antara 6 sampai 30 meter kapal perang milik Amerika tersebut teronggok sekarang. Di sana, kapal sepanjang 120 meter yang di masa jayanya terlihat begitu gagah dan angker itu, sekarang telah berubah fungsi menjadi istana bagi ratusan spesies ikan yang berenang dengan bebas diantara koral berwarna-warni yang tumbuh di semua bagian dinding, geladak dan lambung kapal.

Posisi bangkai kapal yang hanya beberapa meter dari bibir pantai ini juga menjadikannya memiliki keistimewaan lain. Posisi ini membuat situs penyelaman ini menjadi salah satu situs penyelaman bangkai kapal paling aman di dunia. Situs ini bahkan terbilang aman untuk dijelajahi oleh orang yang baru pertama kali menyelam.

Itulah sebabnya ketika Nassim dan Medina mengajakku menyelam, tanpa ragu aku langsung mengajak mereka ke Tulamben yang terletak bagian utara pulau Bali bagian Timur.

Kebetulan aku punya seorang teman bernama Wayan Sukadana yang bekerja sebagai GM di Eco Dive, sebuah perusahaan penyelaman yang berlokasi di Amed, tidak jauh dari Tulamben, perusahaan ini biasa melayani permintaan pelanggannya untuk menyelam di Tulamben.

Di Eco Dive ada banyak instruktur yang bisa berbahasa Perancis yang dengan sabar membimbing para penyelam pemula untuk melakukan penyelaman.

Karena kedua teman saya ini belum pernah menyelam, sebelum menuju ke Tulamben, kami terlebih dahulu melakukan penyelaman di Amed. Di perairan pantai yang berada tepat di hadapan Eco Dive. Di tempat ini Nassim dan Medina membiasakan diri bernapas melalui mulut, menghisap dan mengeluarkan air yang keluar dari tabung scuba. Seperti ketika saya pertama kali menyelam dulu mereka pun merasakan sensasi yang aneh saat pertama kali berada di kedalaman air, suara gelembung air yang keluar dari mulut ditambah adanya air di sekeliling, membuat mereka sedikit merasa panik pada awalnya. Tapi dengan kesabaran instruktur dalam membimbing mereka, akhirnya Nassim dan Medina pun berhasil menghilangkan kegugupan mereka dan berenang dengan bebas dalam kostum selamnya dan mereka pun mulai berfoto dengan berbagai pose dan gaya. Pemandangan bawah air di tempat ini juga tidak jelek-jelek amat, di tempat ini ada banyak terumbu karang yang baru ditanam oleh Eco Dive dengan media balok beton dan ban bekas. Cuma yang agak mengganggu, di sini ada banyak ubur-ubur kecil yang terasa perih saat menyentuh kulit. karena sudah tahu hal ini, saya selalu memilih menggunakan pakaian selam yang menutupi seluruh bagian tubuh. Pilihan ini cukup membantu, meskipun tidak mampu menghindarkan wajah dan bagian jari-jari tangan saya yang terbuka dari sengatan ubur-ubur kecil yang menjengkelkan itu.

Setelah merasa nyaman melakukan penyelaman, saat udara dalam tabung milik Nassim mulai habis (tabung milik Nassim cepat kehabisan udara karena dia belum mahir mengatur nafas), kamipun naik ke permukaan. Kami istirahat sebentar di Eco Dive sambil menunggu tabung kembali diisi,lalu kami pun berangkat ke Tulamben, tempat penyelaman sesungguhnya yang berjarak 20 menit berkendara dengan mobil dari Amed. Bagi yang hanya mengetahui Bali berdasarkan foto-foto wisata yang menggambarkan bali dengan pantai berpasir putih dan sawah berteras yang subur menghijau, mungkin akan merasa ganjil berada di bagian Bali yang ini. Sebab sudut Bali yang satu ini begitu kering kerontang, seperti Gurun. Di sepanjang jalan antara Amed dan Tulamben , vegetasi alam yang ada hanya berupa tumbuhan semak dan rumput yang mengering yang tumbuh di sela-sela batu-batu besar hasil muntahan lava dari letusan Gunung Agung.

Sampai di Tulamben, kami jelas tidak sendirian, karena tempat ini setiap harinya selalu ramai didatangi oleh ratusan penyelam dari berbagai negara.

Dari tempat parkir kami langsung menuju ke lokasi penyelaman di bibir pantai Tulamben yang akibat dari letusan Gunung Agung tahun 1963 yang mengeluarkan 300 juta kubik bebatuan membuat pantai di areal ini ditutupi oleh bebatuan vulkanis yang sudah berbentuk bundar karena tergerus air.

Di tempat itu di sebuah bagunan yang sudah tidak lagi memiliki atap, aku berganti pakaian dengan pakaian selam. Sementara peralatan kami, tabung pemberat, dan lain-lainnya di bawa oleh penduduk setempat yang disewa oleh Eco Dive. Para porter yang semuanya perempuan ini, membawa peralatan selam yang berat itu dengan cara dijunjung di atas kepala, sebagaimana mereka menjunjung banten (sesajen) sebagaimana biasa kita saksikan di kartu-kartu Pos yang menggambarkan budaya Bali.

Setelah semua siap, bersama dengan instruktur, kami pun langsung memulai penyelaman. Mulai dari bagian luar kapal, turun ke bawah menyaksikan riubuan ikan dan koral, terus semakin menjauh ke bagian belakang, menjelajahi bagian dalam kapal, keluar kembali ke geladak menyaksikan betapa indahnya senapan kapal ditumbuhi koral dan dikerumuni ikan yang berwarna-warni mulai dari surgeonfish, bumphead parrotfish, great barracuda, bintang laut dan berbagai jenis siput laut yang indah.

Saat menyelam lebih dalam, tanpa kami sadari, tiba-tiba kami sudah berada di tengah sekawanan ikan kuwe ( school of big eye travelly ) yang jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan yang berenang berputar putar seinring dengan arah arus air. Ikan-ikan ini tampak sangat tenang dan jinak sekali, sama sekali tidak takut terhadap para penyelam. Kalau ingat masa kecil saya saat bersekolah di karang Jadi yang untuk mencari ikan saja kami harus mengeringkan aliran sungai untuk mendapat beberapa ekor ikan saja. Melihat ikan kuwe ini nafsu serakah saya jadi keluar, rasanya saya ingin mengambil jaring dan mengangkut semuanikan ini ke permukaan.

Sayangnya, hari itu kami tidak beruntung bertemu dengan ikan napoleon raksasa yang menjadi ikon di Tulamben ini.

Sambil menyelam dan menikmati keindahan alam bawah laut Tulamben, tentu saja kami tidak lupa untuk berfoto dengan berbagai pose, sehingga saking begitu asyiknya kami lupa sudah menyelam berapa lama dan lupa untuk memperhatikan tekanan tabung, sehingga tanpa terasa tabung milik Nassim sudah mulai kehabisan udara dan kami pun harus naik ke permukaan.

Masalahnya, saat menyelam kita tidak boleh naik ke permukaan dengan tiba-tiba, sebab di samping karena adanya resiko keracunan Nitrogen, naik ke permukaan dengan tiba-tiba, juga sangat mungkin membuat pecahnya gendang telinga bahkan paru-paru meledak akibat perubahan tekanan yang tiba-tiba. harap dimaklumi, karena tekanan air, saat menyelam kapasitas paru-paru bisa menyusut sampai tinggal seperempatnya.

Ini terjadi karena saat menyelam, kita akan mengalami peningkatan tekanan, sehingga udara yang kita hirup jadi lebih banyak dari biasanya. Sebagaimana halnya di permukaan, saat menyelam pun udara yang kita hirup adalah Oksigen dan Nitrogen. Jika kita banyak menghirup oksigen, dampaknya bagi metabolisme tubuh akan positif bagi, tapi gas nitrogen yang kita hirup sebenarnya tidak digunakan oleh tubuh. Sebenarnya saat tubuh kita mengalami kelebihan nitrogen dalam jumlah yang wajar, tubuh kita bisa me-netralisir dengan sendirinya dalam waktu yang relatif singkat melalui proses bernafas, tapi ketika kita menyelam di kedalaman, akibat dari meningkatnya tekanan, gas Nitrogen akan terakumulasi didalam tubuh kita. Semakin dalam dan semakin lama kita menyelam, maka akumulasi nitrogen didalam tubuh kita akan semakin besar.

Kalau kita naik ke permukaan terlalu cepat, akibat dari penurunan tekanan secara drastis, Nitrogen yang sudah bertumpuk di dalam cairan tubuh kita akan terlepas dalam bentuk gelembung udara. Naik dengan cepat dari kedalaman ke permukaan air, sama efeknya seperti sebotol bir yang dikocok lalu dibuka tutupnya secara tiba-tiba. Gelembung udara yang tercipta inilah yang kemudian akan menyumbat aliran darah maupun sistem syaraf tubuh manusia. Sehingga orang yang mengalami ini akan mengalami gejala mirip Stroke, yang bisa berakibat fatal, mulai dari kelumpuhan sampai kematian.

Karena itulah meskipun tabung SCUBA milik Nassim sudah kosong, tapi kami tetap harus naik ke permukaan dengan cara perlahan, dan untuk bisa begitu Nassim tentu harus tetap bernafas. Untuk bernafas itu, Nassim harus kami bantu dengan memberikan udara dari selang cadangan milik saya bergantian dengan selang cadangan milik instruktur dan Medina. Dan syukurlah, tidak ada hal-hal buruk apapun yang terjadi, kami berempat tiba di permukaan dengan selamat dan kemudian mengisi rompi selam kami dengan udara dan berenang ke pinggir.

Begitulah, akhirnya kegiatan kami menyelam di Tulamben hari itu pun berakhir.

Saya, Nassim dan juga Medina memberi sekedar tip pada Instruktur. Kami kembali ke Amed dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Sanur yang berjarak dua jam perjalanan dari Amed. Di Sanur Nassim dan Medina tidak langsung ke hotel, mereka meminta sopir menurunkan kami di restoran Mc Donald, kemudian membayar semua ongkos sewanya dan Nassim dan Medina pun langsung memesan dan segera melahap Big Mac kesukaan mereka. Tidak lupa mereka mengambil foto saat mereka melahap Big Mac, memfoto sertifikat halal yang dipajang di dinding restoran untuk dipamerkan pada keluarga mereka.

Saat membuka internet saya mendapat Berita, kalau Belanda telah melenggang ke final setelah menyingkirkan Uruguay dan esok harinya saya mendapat berita yang lebih istimewa, Jerman yang sebelumnya begitu percaya diri bahkan Arogan setelah sukses menyingkirkan Inggris dan Argentina dengan skor besar akhirnya takluk juga di kaki Spanyol, persis sesuai dengan ramalan Paul si Gurita.

Sayangnya karena saya terlalu lama mendiamkan film tanpa pernah dicuci dalam kamera bawah air milik saya yang kami pakai dalam memotret penyelaman ini, ketika film ber asa 800 tersebut dicuci dan hasilnya kami lihat keesokan harinya, tidak satupun foto kami saat berada di surga bawah air yang terletak di ujung timur pulau dewata ini yang jadi.

T A M A T

Wassalam

Win Wan Nur
Penyuka Aktivitas Penyelaman

Comments Off more...

Tulamben, Keindahan Surga Bawah Air Pulau Dewata…Bag I

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Pada perhelatan Piala dunia 2010 yang baru lalu, terus terang sebenarnya aku cuma ingin menyaksikan proses Brazil menjadi juara dunia untuk yang keenam kalinya, tapi karena Brazil sudah kalah ditumbangkan oleh Belanda di perempat final, aku mulai hilang selera menyaksikan sisa pertandingan di Piala Dunia pertama yang diselenggarakan di bumi Afrika ini.

Pasca gugurnya Brazil sebenarnya saya masih sedikit punya selera menonton Piala Dunia dengan masih beredarnya Argentina, tapi begitu Argentina dihajar dan dipermalukan habis-habisan oleh Jerman, aku benar-benar hilang selera sama sekali menyaksikan sisa pertandingan Piala Dunia.

Kebetulan pasca kekalahan Argentina, dua orang teman yang kukenal dua tahun yang lalu kembali berkunjung ke Indonesia. Temanku yang bernama Nassim dan Medina ini adalah sepasang suami istri warga negara Perancis berdarah Al Jazair. Hari itu, saat baru tiba di Indonesia mereka menghubungiku dan mengatakan ingin sekali mencoba pengalaman menyelam di perairan Bali dan menanyakan di mana lokasi penyelaman terbaik di pulau ini yang aku tahu.

Dibanding mayoritas warga Perancis keturunan Al Jazair (dan arab secara umum) lain, yang umumnya memiliki image buruk di Perancis karena secara stereotip dianggap sebagai kelompok etnis yang kurang berpendidikan, banyak terlibat kriminal dan kurang bisa berbaur dengan warga Perancis lain, kedua teman saya ini terbilang beda.

Medina sang Istri adalah lulusan terbaik fakultas hukum di salah satu perguruan tinggi di Perancis yang kini bekerja sebagai pengacara.

Sementara Nassim sang suami yang lebih muda setahun dari sang istri adalah seorang Insinyur informatika yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan pakaian dengan tugas merancang dan memelihara sistem komputerisasi di perusahaan tersebut. Sejak kecil dengan kemampuan dan kecerdasan mereka yang di atas rata-rata, mereka terbilang tidak pernah memiliki masalah dalam bergaul dengan warga Perancis lain.

Nassim sang suami, sama sekali tidak bisa berbahasa Arab, tapi Medina sang Istri, karena sejak kecil sering diajak keluarganya pulang ke Al Jazair setiapkali liburan sekolah sangat fasih berbahasa Arab dialek Al Jazair. Ironisnya, tidak seperti nassim yang asli orang Arab Al Jazair, Medina, sang istri yang fasih berbahasa arab ini berasal dari suku Kabil (sering ditulis Kabylie atau Kabylia) yang banyak tinggal di bagian timur laut Aljazair di dataran tinggi pegunungan Atlas. Yang oleh orang Al Jazair etnis Arab, sering dianggap bukan orang Al Jazair padahal kenyataannya, sebenarnya orang Kabil inilah penduduk asli Al Jazair yang sudah mendiami tempat ini jauh sebelum gelombang kedatangan suku Arab yang kemudian mendominasi wilayah ini baik baik secara kultural maupun politik (hubungan mereka dengan suku Arab Al Jazair yang mayoritas di negara ini mirip relasi antara suku Gayo dan Aceh). Di Al Jazair, jumlah penduduk suku Kabil yang merupakan pecahan terbesar suku Berber, penduduk asli Al Jazair sebelum kedatangan orang-orang Arab, bersama dengan pecahansuku Berber lain seperti suku the Chaouia ditambah dengan kelompok sub-etnis Berber lain yang lebih kecil seperti suku Mzab yang tinggal di wilayah Sahara Utara dan suku Tuareg yang tinggal di wilayah selatan dataran tinggi Ahaggar hanya 20 percent dari keseluruhan populasi negara ini, sementara 80 persen sisanya adalah suku Arab Aljazair.

Hubungan tidak nyaman antara suku Kabil dan suku Arab yang mayoritas di Al Jazair ini menjadi semakin tidak nyaman ketika kemudian dalam sejarahnya suku ini dikenal ada di garis depan dalam memperjuangkan bahasa berber dan berlakunya hukum Sekular (“laïcité” dalam bahasa Perancis) di Al Jazair, negara Afrika Utara yang paling ketat menerapkan hukum syari’at.

Secara fisik, suku Kabil memiliki ciri khas mata biru dan berambut pirang ini memang lebih mirip orang Eropa.

***

Di masa kecilnya, seperti banyak anak keturunan Al Jazair lain di lingkungan tinggalnya, Nassim sempat serius berlatih bola di sebuah Akademi. Bersama seorang teman akrabnya yang bernama Mourad yang sama-sama memiliki IQ di atas rata-rata, Nassim adalah pemain terbaik di akademi sepakbola tempatnya berlatih. Tapi karena orang tua Nassim yang terbilang konservatif yang menganggap sekolah di atas segala-galanya, mereka melarang Nassim untuk menekuni sepakbola sampai dewasa, sebaliknya mereka menyuruh Nassim yang cerdas ini untuk fokus pada studi yang akhirnya mengantarkannya menjadi seorang Insinyur informatika seperti sekarang.

Tapi meskipun sudah fokus ke studi yang telah berhasil mengantarkannya menjadi Insinyur, kecintaan Nassim pada sepakbola tidak hilang. Menurut Medina istrinya, sampai sekarang Nassim tetap tidak bisa meninggalkan aktivitas bermain bola. Di sela-sela waktu luangnya, terutama di malam hari, Nassim masih tetap bermain bola dan permainannya masih terbilang lumayan, sehingga sampai sekarang Nassim yang berposisi sebagai gelandang ini masih sering disewa oleh klub-klub Amatir di sekitar Paris untuk memperkuat klub mereka di pertandingan antar wilayah (di sini pertandingan semacam ini dikenal dengan istilah pertandingan Antar Kampung alias TARKAM).

Sementara teman akrab Nassim, Mourad, yang bernama lengkap Mourad Meghni tetap menekuni sepakbola sampai dewasa dan kemudian menjadi pemain sepak bola profesional.

Dalam karirnya Mourad Meghni pernah memperkuat tim Yunior U-17 Perancis dan di antaranya bersama Florent Sinama-Pongolle dan Anthony Le Tallec, pemain yang berjuluk “Petit Zidane” ini berhasil membawa Perancis memenangi kejuaraan dunia U-17 yang diselenggarakan di Trinidad dan Tobago pada tahun 2001 tersebut.

Tapi di level senior, Mourad yang kini bermain untuk klub asal ibukota Italia SS Lazio, tidak mampu bersaing dengan para bintang yang menghuni skuad Perancis, sehingga akhirnya ketika Rabah Saadane, Pelatih Timnas Al Jazair memanggilnya untuk memperkuat tim rubah Gurun ini, Mourad pun langsung mengiyakan dan jadilah Mourad Meghni yang seperti juga Nassim hanya bisa berbahasa Perancis dan sama sekali tidak bisa berbahasa Arab ini menjadi anggota Tim nasional Al Jazair, tim yang beberapa waktu yang lalu ikut bertarung di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Sayangnya karena dirinya tidak kunjung pulih dari cedera lutut yang berkepanjangan, akhirnya Mourad Meghni, teman baik Nassim ini gagal berangkat ke Afrika Selatan.

Meski lahir, besar dan keluarganya sudah beberapa generasi tinggal di Perancis, tapi dalam banyak hal Nassim dan Medina persis seperti kita dalam menjalankan ajaran Islam. Meskipun shalat mereka bolong-bolong, tapi dalam soal makanan mereka sangat ketat mematuhi aturan-aturan yang digariskan dalam islam sebagaimana yang kita anut di sini. Meskipun lahir dan besar dalam lingkungan yang mayoritas peminum alkohol, mereka berdua sama sekali tidak meminum alkohol. Selain tidak meminum Alkohol, mereka berdua juga sangat ketat dalam urusan halal haramnya makanan. Mereka berdua hanya mau mengkonsumsi makanan yang benar-benar HALAL.

Alasan terakhir ini pulalah yang membuat mereka tertarik untuk kembali ke Bali setalah kunjungan mereka yang pertama dua tahun yang lalu.

Bali menarik di mata mereka karena di pulau ini mereka bisa makan Mc Donald sepuasnya. Mc Donald?….iya Mc Donald restoran Amerika yang di eropa dianggap sebagai restoran murahan itu.

Banyak orang Perancis yang tertawa mendengar alasan mereka itu, karena di Perancis Mc Donald terhitung makanan murahan yang mudah ditemukan dimana-mana. Tapi saya yang juga muslim seperti mereka, sangat memahami alasan mereka ini.

Sejak kecil, sebagaimana teman-teman sebayanya, Nassim dan Medina sangat ingin mencicipi burger Mc Donald yang iklannya begitu gencar ditayangkan di layar kaca. Tapi karena restoran Mc Donald di Perancis tidak dilengkapi dengan sertifikat halal, mereka tidak pernah bisa menikmatinya. Di Al jazair, kampung asal yang sering dikunjungi Medina, sama sekali tidak ada restoran Mc Donald. Sehigga baru di Bali lah, Nassim dan Medina pertama kali menikmati burger Mc Donald yang begitu mereka idam-idamkan sejak kecil.

Di samping alasan yang terbilang janggal itu, tentu saja nassim dan Medina kembali ke Bali, karena pulau ini sendiri adalah nama sebuah pulau yang sudah menjadi jaminan mutu bagi sebuah perjalanan wisata. Pulau ini seperti sebuah Supermarket atau Toko Serba ada bagi berbagai aktivitas wisata.

Mulai dari pantai tempat berjemur, tempat dugem, belanja, aktifitas budaya, petualangan alam terbuka sampai bawah laut bisa ditemukan di pulau ini.

Untuk aktifitas menyelam saja misalnya, di Bali ada banyak sekali lokasi menarik untuk melakukan aktivitas itu, mulai dari Tanjung Benoa, Nusa Lembongan, Lovina, sampai Amed. Tapi bagi saya sendiri jika menyebut kata MENYELAM dan BALI secara bersamaan, maka nama pertama yang muncul di kepala saya adalah Tulamben.

…… Bersambung ke Bagian II

Comments Off more...

Kalau Paul si Gurita, Hidup di Indonesia

Posted by winwannur in Aug 10, 2010, under Uncategorized

Di samping berbagai kejutan dengan bertumbangannya tim-tim unggulan dan kualitas Bola Jabulani yang menghancurkan keindahan permainan, satu kehebohan terbesar di Piala dunia kali ini adalah keberadaan Paul, si Gurita Peramal yang lahir di Inggris tapi kini tinggal di Oberhausen Jerman.

Sosok Gurita berumur 2 tahun ini tiba-tiba menjadi begitu terkenal ke seluruh penjuru dunia berkat ketepatan ramalannya berkaitan dengan pertandingan yang dilakoni Jerman. Sehingga tak ayal di Piala dunia 2010 ini, Paul, ini pun menjadi selebritis dadakan dan menjadi Bintang yang bersinar paling terang, mengalahkan kecemerlangan sinar semua bintang terbaik sepakbola dunia yang digadang-gadang akan berkilau di piala dunia kali ini.

Ketepatan ramalan Paul, tak pelak membuat orang Jerman, negeri tempat kelahiran filsafat Aufklaerung, moyangnya filsafat positivisme logis yang sangat anti tahayul, negeri kelahiran para filsuf pencerahan seperti Leibniz, Gottsched, Lessing sampai Immanuel Kant, mau tidak mau jadi percaya pada hal-hal yang sekilas berbau klenik seperti ini.

Kehebatan kemampuan meramal yang dimiliki Paul ini membuat Deddy Corbuzier, mentalis dan peramal yang dikenal dengan dandanan seram dan gahar tampak seperti pelawak konyol yang mahir mengundang tawa. Ketepatan ramalan Paul, membuat ramalan Deddy tentang siapa yang menjadi pemenang Piala Dunia kali ini, yang dibuat secara spektakuler dan sok serius dengan hasil ramalan yang digantung dalam kotak dan dijaga 24 jam penuh tampak seperti pertunjukan Opera van Java.

Saya sendiri awalnya tidak begitu peduli dengan segala macam urusan ramal-meramal ini bahakn juga tidak memperdulikan keberadaan si Gurita ini, saya mulai tertarik dengan keberadaannya ketika Brazil sudah kalah dan saya tinggal berharap pada Argentina, tapi pada saat itu Paul yang reputasinya tengah menanjak itu meramalkan kalau Argentina akan dilumat Jerman, saya sedikitpun tidak percaya, seperti para pendukung Argentina lainnya, saya geregetan melihat ada orang yang percaya pada ramalan konyol makhluk jelek seperti ini.

Tapi saat pertandingan berakhir dengan skor 4-0 untuk kemenangan Jerman, saya pun tidak bisa lagi berkata apa-apa. Apalagi kemudian kekalahan Argentina ini membuat para pendukung Jerman, pelatih dan pemainnya menjadi begitu banyak omong, songong, sengak dan petentengan kemana-mana.

Dalam situasi seperti ini, yang langsung terbayang di kepala saya adalah jari-jari halus nan lentik milik FARAH QUINN yang dengan senyuman khasnya yang bisa membuat laki-laki yang paling sangar pun menjadi jinak, sedang memegang pisau tajam mengkilat, mencincang daging gurita untuk dibuat menjadi Takoyaki, masakan Jepang kesukaan anak perempuan saya.

Menjelang pertandingan Semifinal antara Jerman lawan Spanyol, tersebar berita kalau kali ini Paul si Gurita memilih Spanyol sebagai pemenang. Entahlah apa alasan yang mendasari Paul untuk melakukan itu, entah itu karena Paul takut dengan reputasi Spanyol yang terkenal sebagai bangsa paling kejam terhadap binatang, karena di Spanyol disamping Trodero,pertandingan adu banteng dengan Matador yang begitu terkenal di seluruh penjuru dunia itu, masih ada banyak festival yang mempraktekkan kekerasan terhadap binatang yang diselenggarakan di seluruh penjuru negara ini setiap tahunnya. Festival-festival semacam menjatuhkan biri-biri dari atas menara, festival yang mempertandingkan kemampuan mencopot leher angsa dengan tangan kosong, sampai festival menghancurkan buah zakar keledai dengan tongkat adalah beberapa di antara banyak festifal di Spanyol yang menjadikan binatang sebagai objek penderita. Atau bisa jadi Paul juga takut mendengar reputasi Spanyol yang di eropa dikenal dengan makanan lautnya, yang salah satunya adalah Paella, makanan khas Valecia berbahan nasi yang diberi bumbu rempah dan diberi campuran hasil laut berupa udang, kerang atau GURITA.

Apapun alasan Paul menentukan pilihannya, kali ini saya benar-benar berharap agar ramalan Paul kembali benar, agar saya bisa bebas membungkam mulut besar para pendukung Jerman. Dan benar saja, kali ini pun lagi-lagi ramalan Paul si gurita ini 100% benar. Saya pun bersuka cita dan kemudian dengan leluasa membungkam bacot besar para pendukung Jerman yang karena berhasil mengalahkan Inggris dan Argentina dengan skor telak langsung bertingkah seolah-olah tim pujaan mereka sudah menjadi juara dunia.

Tapi sebaliknya, kalau saya bersuka cita dengan kebenaran ramalan Paul, kini giliran pendukung dan penduduk Jerman yang meradang, kali ini mereka yang sebelumnya begitu memuja Paul, tiba-tiba jadi anti Gurita.

Di facebook, twitter dan forum-forum internet menampilkan sejumlah suporter timnas Jerman mem-posting pesan yang mengatakan sebaiknya si Paul dipanggang saja. Sampai-sampai Jose Zapatero, Perdana Menteri Spanyol yang tim negaranya diuntungkan oleh ramalan Paul (meskipun secara bercanda) berjanji akan memberikan perlindungan kenegaraan kepada Paul, si gurita peramal yang sukses menebak dengan jitu kemenangan Spanyol atas tim Jerman.

Terlepas dari segala kontroversi yang ditimbulkan Paul.

Dalam dunia ilmiah, Gurita, hewan laut yang memiliki sembilan otak ini memang sudah lama dikenal sebagai binatang yang sangat cerdas. Dalam tes laboratorium, Gurita bisa dilatih untuk membedakan bentuk dan pola yang berbeda. Dalam berbagai eksperimen diketahui bahwa, seperti manusia, Gurita memiliki ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang dan tidak seperti hewan-hewan lainnya, sebagaimana Manusia perilaku gurita lebih banyak ditentukan oleh hal-hal yang didapat dari aktivitas belajar bukan berdasarkan insting. Kemudian sampai sejauh ini Gurita juga diketahui sebagai satu-satunya hewan invertebrata yang bisa menggunakan perkakas.

Dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa seperti itu, banyak ilmuwan yang percaya kalau di samping manusia, Gurita adalah makhluk lain penghuni planet ini yang sebenarnya bisa menciptakan bahasa dan membentuk sebuah peradaban. Satu-satunya hal yang menghalangi Gurita untuk memiliki peradaban dan memiliki bahasa adalah usianya yang pendek. Beberapa spesies gurita hanya mampu bertahan hidup selama 6 bulan saja. Spesies lain yang lebih besar seperti Gurita Raksasa Ppasifik Utara misalnya bisa hidup sampai usia lima tahun. Penyebab utama pendeknya usia gurita adalah aktivitas reproduksinya, gurita jantan hanya mampu hidup beberapa bulan setelah kawin sedangkan gurita betina hanya mampu hidup sampai beberapa saat setelah telurnya menetas. Itulah sebabnya anak Gurita hampir sama sekali tidak mendapat pengetahuan apapun dari orang tua mereka, inilah yang membuat gurita, hewan yang cerdas ini tidak bisa membentuk sebuah peradaban sebagaimana halnya Manusia, makhluk cerdas lain penghuni bumi tercinta.

Fakta ini pula yang membuat banyak ilmuwan yang berspekulasi bahwa kehidupan cerdas di planet lain (kalau ada), bisa jadi dimiliki oleh makhluk yang berbentuk mirip Gurita.

Menurut mitologi orang Hawaii, dunia yang kita tinggali saat ini adalah dunia yang dibentuk setelah sang Pencipta menghancurkan alam sebelumnya (kiamat) Berdadarkan mitologi ini, orang Hawaii percaya kalau Gurita adalah satu-satunya makhluk cerdas yang bertahan hidup dari kiamat dunia sebelumnya dan tetap hadir di dunia ysng kits tinggali saat ini.

Begitulah kisah Paul, fakta ilmiah dan mitologi tentang Gurita.

Sekarang mari kita bayangkan, apa jadinya kalau Paul tinggal di Indonesia (terutama di pulau Jawa), negeri yang penduduknya begitu percaya kepada berbagai hal yang berbau klenik dan tahayul, yang kalau mengalami sebuah kejadian luar biasa, langsung mengaitkannya dengan berbagai mitos dan legenda.

Di Jawa, di beberapa daerah, sebuah kuburan milik seorang tokoh besar di masa lalu seringkali dipercaya memiliki kekuatan keramat sehingga menarik minat banyak orang untuk mengalap berkah, mulai dari minta pelarisan usaha, minta jodoh, minta anak sampai menyembuhkan penyakit. Saking banyaknya pengunjungnya sampai-sampai Pemda setempat mentenderkan pengelolaannya. Kenyataan seperti yang biasa saya saksikan ini membuat saya begitu miris menyaksikan kuburan Iskandar Muda di kompleks Meuligoe Aceh yang tampak tak terawat dan tidak dipedulikan orang, saya bayangkan seandainya kuburan ini terdapat di Pulau Jawa, bukan di Provinsi tempat kelahiran saya, tentu kuburan tersebut akan didatangi banyak orang, lalu bisa ditenderkan dan akan menyumbangkan PAD beberapa milyar rupiah setiap tahunnya.

Fenomena terbaru kasus klenik semacam ini adalah fenomena Ponari di Jember, yang cerita tentang batu petir miliknya mengundang ribuan orang untuk meminta berkah darinya. Orang-orang miskin yang menderita sakit, yang tidak kuat membayar tingginya biaya kesehatan di negeri ini seperti mendapat durian runtuh mendengar berita ini, mereka pun kemudian ramai-ramai mendatangi Ponari untuk meminta air celupan batu petir miliknya yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit mereka.

Di televisi juga pernah ditampilkan, di sebuah daerah lahir seekor anak kambing yang wajahnya menyerupai manusia yang mati sesaat setelah dilahirkan. berita ini langsung mengundang kedatangan banyak orang dan seperti biasa orangpun mulai mengarang cerita macam-macam dan percaya kalau anak kambing itu memiliki kekuatan supranatural.

Ketika di negeri ini ada anak kambing yang lahir cacat sehingga mukanya jadi mirip manusia saja dipercaya memiliki kekuatan supranatural sehingga banyak didatangi orang untuk mengharap berkah.

Maka bayangkanlah apa jadinya kalau hewan sespektakuler Paul ada di sini, saya bisa pastikan kalau akuariumnya tidak akan berhenti didatangi orang dari mana-mana. Air Aquariumnya akan dipercaya memiliki khasiat luar biasa, yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit ecek-ecek seperti kadas dan kurap, sampai penyakit serius semacam kanker dan tumor bahkan mampu menetralisir pelet dan gangguan makhluk halus.

Oleh pemiliknya Paul pasti akan diperlakukan layaknya dewa, diberi gelar kehormatan Kyai, sebagaimana gelar Kyai yang disandang oleh Kyai Slamet, kerbau bule di keraton solo yang dipercaya sebagai hewan keramat. Bukan tidak mungkin juga akan bermunculan cerita di masyarakat tentang Paul, yang mengatakan kalau Paul dulunya adalah hewan peliharaan Sunan Kalijaga yang diberi kekuatan khusus oleh pemilik lamanya.

Alih-alih ada yang berpikir menjadikannya Tokiyaki atau Paella, sebaliknya, selain mendapat makanan dan perlakuan istimewa, tiap Selasa Pahing dan Jum’at Kliwon, di depan Aquariumnya, Paul akan mendapati tumpukan sesajen yang berisi kembang tujuh rupa.

Bahkan FPI-pun akan menjadi sasaran amuk massa jika sampai berani mengusik keberadaannya.

Wassalam

Win Wan Nur
Penggemar Seafood, Timnas Brazil dan Inter Milan

Comments Off more...